KolomData.id – Makassar – Appi memang sudah tidak mengurusi PSM Makassar. Namun dia tetap menjadi bagian dari sejarah panjang tim sepak bola tertua di Indonesia itu. Mereka pernah merajut kejayaan bersama. Satu trofi Piala Indonesia dan satu trofi Liga Indonesia kembali di masa kepemimpinan Appi. Bahkan, Appi menjadi orang yang berhasil mengembalikan trofi setelah 19 tahun PSM puasa gelar, termasuk trofi liga setelah penantian 23 tahun.
Kali ini, mereka kembali disatukan dalam nuansa hangat di rumah jabatan Wali Kota Makassar, Kamis (13/11/2025), malam. Tak ada sekat, tak ada jarak. Nostalgia dan harapan terpampang jelas dalam pertemuan ini. Semuanya riang gembira. Kehangatan itu menjadi penanda bahwa hubungan antara Appi dan PSM tidak benar-benar terputus meski secara kepengurusan ia sudah tidak lagi menangani tim.
Dalam pertemuan tersebut, Appi sempat memantik semangat para penggawa PSM. Dia mengingatkan pentingnya simbol Phinisi di dada PSM, simbol kejayaan bagi mereka. Phinisi sendiri merupakan kapal layar tradisional khas Bugis-Makassar yang sarat makna bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bagi Appi, lambang itu bukan sekadar hiasan di jersey, melainkan pengingat identitas dan perjuangan.
“Simbol Phinisi ini sakral. Di dalamnya terkandung banyak pesan moral dan filosofi yang wajib diketahui semua pemain PSM,” ujar dia. Pernyataan itu menegaskan bahwa Appi ingin para pemain memahami nilai yang mereka bawa setiap kali bertanding. Simbol Phinisi dianggapnya sebagai representasi kejayaan yang pernah diraih dan harus dijaga oleh generasi pemain saat ini.
Munafri menegaskan, lambang Phinisi tidak hadir begitu saja di jersey PSM. Ada harapan besar di dalamnya. “Ada kisah dan nilai yang begitu dalam di baliknya,” tutup dia. Keterangan Munafri menambah penekanan bahwa simbol tersebut memiliki akar sejarah dan makna yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan PSM Makassar.
Pertemuan di rumah jabatan Wali Kota Makassar itu menjadi ruang temu antara masa lalu dan masa kini PSM. Appi, yang pernah membawa klub ini keluar dari puasa gelar, kembali mengingatkan arti penting identitas tim. Para penggawa PSM yang hadir mendapat pesan langsung tentang tanggung jawab menjaga simbol kejayaan di dada mereka.
Bagi PSM Makassar, sebagai tim sepak bola tertua di Indonesia, simbol Phinisi bukan hanya soal sejarah. Ia menjadi pengingat bahwa kejayaan pernah diraih dan bisa diraih kembali. Pertemuan itu menutup malam dengan harapan yang terpampang jelas, bahwa nilai-nilai lama tetap relevan bagi perjuangan tim ke depan. (*)

Tinggalkan Balasan