KolomData.id – Makassar – Sebanyak 114 guru dan kepala sekolah dari Wilayah Gugus 3 dan Gugus 5 Kecamatan Tamalate mengikuti kelas kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang digelar Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Makassar, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang berlangsung siang hingga sore itu berjalan riuh oleh antusiasme peserta. Pelatihan ini menyasar para pendidik yang sebelumnya dianggap rentan gagap teknologi, namun justru menunjukkan ketertarikan besar untuk memanfaatkan teknologi digital di ruang kelas.
Kecamatan Tamalate merupakan salah satu wilayah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Para peserta yang hadir berasal dari dua gugus sekolah, yakni Gugus 3 dan Gugus 5, yang mencakup guru dan kepala sekolah dari berbagai jenjang di wilayah tersebut. Keikutsertaan 114 pendidik dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa kalangan guru di Tamalate tidak pasif menunggu, melainkan mengambil langkah aktif untuk memahami teknologi yang tengah berkembang pesat.
Kelas kecerdasan artifisial ini merupakan bagian dari program AI Goes To School yang digulirkan Mafindo. Program tersebut menyasar pendampingan bagi 10.000 guru di 40 kota agar lebih siap menghadapi era kecerdasan artifisial, sekaligus memperkuat literasi digital di lingkungan sekolah. Dengan cakupan yang luas itu, kegiatan di Tamalate menjadi salah satu titik pelaksanaan dari rangkaian program yang lebih besar.
Mafindo Makassar menegaskan teknologi AI dan literasi digital bukan lagi ancaman bagi para guru. Keduanya dinilai dapat menjadi sahabat baru untuk melahirkan proses pembelajaran yang cerdas, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pandangan itu sekaligus menjawab anggapan bahwa kehadiran AI di dunia pendidikan akan menyulitkan posisi guru, terutama mereka yang berusia senior.
Anggapan bahwa guru senior sulit mengikuti perkembangan teknologi patah di Kota Makassar. Alih-alih menghindari topik kecerdasan artifisial, para pendidik dari Gugus 3 dan Gugus 5 Tamalate justru menunjukkan rasa ingin tahu yang besar selama kegiatan berlangsung. Antusiasme itu terlihat dari suasana kelas yang riuh, dari siang hingga sore, sepanjang penyelenggaraan pelatihan.
Pelatihan ini menyasar para pendidik yang sebelumnya dianggap rentan gagap teknologi. Melalui pendampingan semacam ini, para guru diharapkan tidak hanya mengenal AI secara konseptual, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk mendukung proses pembelajaran di ruang kelas. Kemampuan literasi digital menjadi bekal penting agar guru dapat mendampingi siswa di tengah derasnya arus teknologi.
Kegiatan di Tamalate memperlihatkan bahwa penguatan literasi digital di lingkungan sekolah berjalan melalui pelibatan langsung para pendidik. Program AI Goes To School yang menargetkan 10.000 guru di 40 kota menempatkan guru sebagai ujung tombak dalam menghadapi era kecerdasan artifisial. Bagi Mafindo Makassar, AI dan literasi digital diposisikan sebagai mitra kerja guru dalam menghadirkan pembelajaran yang cerdas, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Sumber: Harian Fajar

Tinggalkan Balasan