KolomData.id – Ponorogo – Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu (19/9/2026), tidak hanya menjadi momentum syukuran atas perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan Islam. Acara yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto itu juga diwarnai guyonan yang menyentil fenomena sosial di tengah masyarakat. Pimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato yang berisi sindiran ringan namun mengena, terutama soal kebiasaan “cari muka” yang ia nilai kini banyak dilakukan orang.
Dalam pidatonya di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para hadirin, Kiai Hasan menyoroti kebiasaan sebagian orang yang gemar mencari muka. “Sekarang banyak orang yang cari muka,” ujar Kiai Hasan, yang langsung disambut tawa para hadirin. Guyonan itu bukan tanpa arah. Ia lantas menyebut beberapa hal yang kerap dicari seseorang ketika merasa tidak memilikinya, dan salah satunya adalah ijazah.
Ucapan Kiai Hasan langsung menjadi sorotan. Pasalnya, momentum peringatan satu abad Gontor itu bertepatan dengan perdebatan publik soal polemik ijazah yang mencuat di ruang publik beberapa pekan terakhir. Sindiran ringan itu pun dinilai relevan dengan situasi yang sedang hangat dibicarakan masyarakat, sehingga pernyataannya cepat menarik perhatian.
Meski menyampaikan sindiran, Kiai Hasan tetap menegaskan arah pendidikan Gontor. Ia menyatakan bahwa Gontor tetap memilih jalan pendidikan sebagai pembinaan kader umat. Penegasan itu menjadi penanda bahwa pesantren yang berdiri sejak 1926 ini konsisten menempuh jalur pembinaan generasi melalui pendidikan, bukan melalui hal-hal yang bersifat pencitraan.
Peringatan satu abad PMDG sendiri menjadi penanda perjalanan panjang lembaga pendidikan Islam tersebut. Berdiri sejak 1926, Gontor telah melewati berbagai fase sejarah pendidikan di Indonesia. Peringatan 100 tahun ini menjadi momen refleksi atas perjalanan lembaga yang dikenal sebagai pesantren pembina kader umat, sekaligus penegasan komitmen terhadap jalur pendidikan yang selama ini ditempuh.
Dalam konteks perdebatan publik soal ijazah, sindiran Kiai Hasan menyentuh persoalan yang lebih luas. Ia tidak hanya berbicara soal gelar atau dokumen, melainkan soal sikap seseorang yang merasa tidak memiliki sesuatu lalu mencarinya dengan cara yang tidak semestinya. Guyonan itu menjadi kritik sosial yang halus, disampaikan di hadapan hadirin dan Presiden Prabowo Subianto.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara tersebut menambah bobot momentum peringatan satu abad Gontor. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi ruang bagi pimpinan pesantren untuk menyampaikan pandangan sosialnya, termasuk soal fenomena cari muka yang ia nilai menggejala. Sumber: Fajar.co.id
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan