Kolomdata.id – Kathmandu – Otoritas Nepal mengeluarkan peringatan dini pada Minggu (27/9/2026) bahwa ancaman banjir bandang masih membayangi sejumlah daerah seiring terus naiknya permukaan air sungai. Peringatan yang sama juga disiapkan di India utara, tempat curah hujan tercatat jauh melampaui batas normal. Hingga laporan terbaru, sedikitnya 70 orang meninggal dunia dalam rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda kedua negara itu.
Di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, hujan yang turun antara 25 September hingga pagi 27 September mencapai 66,5 milimeter. Jumlah itu sangat tinggi dibandingkan curah hujan normal yang hanya sekitar 7,6 milimeter untuk rentang waktu yang sama. Komisaris Penanggulangan Bencana Uttar Pradesh, Hrishikesh Bhaskar Yashod, menyampaikan data tersebut sebagai dasar penetapan status siaga. Tim penyelamat pun dikerahkan ke kawasan yang terendam untuk mengevakuasi penghuni sekaligus menyalurkan bantuan logistik. Pemerintah daerah juga memerintahkan instansi terkait untuk mendata kerusakan lahan pertanian dan menyiapkan kompensasi bagi petani yang terkena dampak.
Rangkaian bencana itu tidak hanya menelan korban jiwa. Sebanyak 46 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara lebih dari 1.000 rumah mengalami kerusakan di berbagai titik. Di wilayah Nepal, peringatan potensi banjir bandang diberlakukan di 49 dari 77 distrik. Artinya, lebih dari setengah wilayah negara tersebut kini berstatus berisiko tinggi karena debit air di sungai-sungai utama maupun anak sungai terus meningkat. Juru bicara National Disaster Risk Reduction and Management Authority Nepal, Shanti Mahat, meminta masyarakat di wilayah Rasuwa dan Nuwakot meningkatkan kewaspadaan. Kedua daerah itu sebelumnya dilanda banjir mematikan pada bulan lalu yang menewaskan lebih dari 1.450 orang dan meninggalkan ribuan orang lainnya masih dalam pencarian. Meski demikian, Mahat memastikan Rasuwa dan Nuwakot untuk saat ini belum masuk kategori berisiko tinggi.
Krisis juga merembet ke sektor energi. Kementerian Energi Nepal melaporkan aliran listrik terputus total di distrik Manang, Mustang, Myagdi, dan Baglung. Petugas setempat tengah berupaya memulihkan jaringan di kawasan terdampak. Kerusakan lebih parah terjadi pada sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 40 megawatt, yang struktur serta menara saluran transmisinya dirusak oleh banjir Sungai Rahuganga. Kondisi tersebut diungkapkan Menteri Sumber Daya Air dan Energi Nepal, Biraj Bhakta Shrestha. Di sisi lain, Central Water Commission India mencatat 30 stasiun pemantauan sungai di tujuh negara bagian berada dalam situasi parah. Sejumlah sungai besar seperti Gangga, Gandak, Kosi, Bagmati, dan Narmada dilaporkan telah melewati ambang batas bahaya.
Layanan komunikasi ikut terganggu akibat banjir dan longsor di beberapa wilayah Nepal. Menteri Komunikasi Bikram Timilsinha menyebut kerusakan serat optik dan gangguan pasokan listrik sebagai penyebab utamanya. Sementara itu, insiden terpisah terjadi di Nepal utara. Sebanyak 10 pekerja lokal dilaporkan hilang setelah longsoran salju menimbun base camp Gunung Himlung Himal di Distrik Manang. Gunung setinggi 7.126 meter itu sedang menjadi lokasi persiapan tenda bagi pendaki asing ketika longsoran menerjang. Beruntung, tidak ada pendaki asing yang berada di lokasi saat peristiwa itu berlangsung.
Banjir dan tanah longsor merupakan bencana musiman yang kerap menghantam Asia Selatan selama periode muson. Kombinasi curah hujan ekstrem, topografi berbukit, serta aliran sungai lintas negara membuat kawasan Nepal dan India utara rentan terhadap bencana susulan. Pemerintah kedua negara kini bergantung pada sistem peringatan dini dan kesiapan tim tanggap darurat untuk menekan jumlah korban seiring cuaca yang belum sepenuhnya reda.
Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan