
Kolomdata.id — Makassar – Ripuji Lontaratta, usaha fesyen dan kerajinan asal Makassar, Sulawesi Selatan, mengangkat aksara Lontara ke produk yang dekat dengan generasi muda. Usaha yang berdiri sejak 2019 itu menghadirkan tas dan topi dengan motif aksara khas Sulawesi Selatan, di antaranya Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat.
Pendirinya, As’ad Fadli, mengaku berangkat dari keresahan melihat banyak anak muda di Kota Makassar yang mulai tidak mengenal aksara Lontara. Aksara itu merupakan salah satu warisan budaya Sulawesi Selatan dan telah terdaftar dalam sistem Unicode sebagai aksara dunia. Di sisi lain, ia menilai ada peluang memperkenalkan kembali identitas budaya tersebut melalui produk yang sesuai gaya hidup generasi muda, terutama tas dan topi yang menunjang penampilan.
Kini Ripuji Lontaratta memiliki lima orang tenaga kerja. Produknya dipasarkan lewat sejumlah kanal, mulai dari gerai offline, media sosial, kerja sama business to business, hingga pameran dan event. Pasar usaha ini tidak hanya dari Makassar, tetapi juga telah menjangkau konsumen antarkota hingga antarpulau. Kombinasi desain kekinian dan motif aksara Lontara menjadi ciri yang membedakan produknya di pasar.
Kapasitas pengelolaan usaha menjadi perhatian As’ad agar bisnisnya tidak sekadar bertahan, tetapi juga tumbuh berkelanjutan. Ia kemudian bergabung dengan platform linkumkm by BRI setelah berkunjung ke Rumah BUMN Makassar dan mendapat informasi mengenai program yang tersedia. Menurut dia, pelatihan yang diikuti membantu perkembangan usaha, khususnya pada aspek legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Ia mengaku memperoleh pengetahuan tentang cara mengatur usaha sekaligus mengelola tim agar lebih produktif.
Platform linkumkm by BRI merupakan bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM BRI yang menyediakan akses pengembangan kapasitas usaha. Hingga September 2026, jumlah pelaku UMKM yang memanfaatkan platform tersebut tercatat mencapai 17,6 juta. Pertumbuhan itu menunjukkan semakin luasnya akses pelaku usaha terhadap sarana pengembangan usaha secara digital, mulai dari pelatihan hingga konsultasi usaha.
Dalam transaksi harian, Ripuji Lontaratta memanfaatkan layanan QRIS BRI untuk memudahkan pembayaran pelanggan. Perjalanan usaha tidak selalu mulus; As’ad mengaku pernah menghadapi pesanan custom yang dibatalkan secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang kurang sehat. Pengalaman itu menjadi bahan evaluasi proses bisnis dan pencarian solusi. Menurut dia, setiap persoalan mendorong perbaikan pada tata kelola usaha kecil yang sedang bertumbuh.
Senior Executive Vice President Micro Business Empowerment BRI M. Candra Utama menilai pemberdayaan UMKM perlu dilakukan menyeluruh karena tantangan pelaku usaha tidak hanya soal permodalan. Kapasitas manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, hingga kemampuan membaca peluang pasar juga menentukan. Menurut dia, platform linkumkm by BRI hadir agar pelaku UMKM bisa belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya. Bagi As’ad, setiap produk yang dibuat membawa misi memperkenalkan kembali aksara Lontara sebagai identitas budaya yang perlu dilestarikan dan dibanggakan.
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan