
Kolomdata.id — Makassar – Proyek riset-aksi Land4Lives resmi menutup kegiatannya di Sulawesi Selatan dan menyerahkan hasil kerja lima tahun kepada Pemerintah Provinsi Sulsel. Penyerahan itu ditandai Dialog Multipihak bertema Jejak Kolaborasi Land4Lives di Sulawesi Selatan di Hotel Four Points Makassar, Kamis (8/10/2026), yang diinisiasi ICRAF Indonesia bersama Bappelitbangda Provinsi Sulsel.
Laporan capaian diterima Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sulsel Kasman. Land4Lives merupakan proyek kerja sama untuk perubahan iklim yang didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Di Sulawesi Selatan, kerja sama dengan pemerintah daerah dimulai pada 2021, sementara kegiatan lapangan berjalan sejak 2022. Rangkaian penutupan sendiri dimulai dari Desa Pakkasalo pada 5 Oktober, dialog multipihak di Watampone pada 6 Oktober, lalu konferensi Simpul Pangan Nusantara di Makassar pada 7 Oktober.
Kasman berharap pembelajaran dari program tersebut tidak berhenti sebagai dokumen. Menurutnya, Sulsel memiliki lebih dari satu daerah aliran sungai sehingga pendekatan serupa berpeluang direplikasi di wilayah lain. Ia menyoroti DAS Bila Walanae yang menghadapi persoalan tutupan lahan, degradasi lingkungan, serta persoalan sosial yang cukup kompleks. Pengelolaan DAS, katanya, harus dilakukan terintegrasi karena kondisi kawasan hulu berdampak langsung ke wilayah hilir, termasuk pada ketahanan pangan, air, dan energi.
Kepala Kerja Sama Pembangunan Kanada atau Global Affairs Canada, Alice Birnbaum, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun dengan Pemerintah Sulawesi Selatan. Menurutnya, salah satu hasil penting program adalah menguatnya kepemimpinan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam menindaklanjuti hasil kegiatan. Ia menyebut prioritas utama bantuan pembangunan Kanada di Indonesia mencakup kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, ketahanan iklim, serta ketahanan pangan.
Direktur ICRAF Indonesia sekaligus Koordinator Proyek Land4Lives, Andree Ekadinata, menegaskan seluruh capaian kini menjadi milik masyarakat dan pemerintah daerah. Ia menyebut berakhirnya pendampingan pada 2026 bukan garis akhir, melainkan penyerahan tongkat estafet, karena instrumen perencanaan, sistem pengetahuan, dan jejaring kelembagaan yang dibangun bersama telah menjadi modal daerah.
Selama lima tahun, program bekerja di tiga tingkat: desa, bentang lahan, dan provinsi. Land4Lives mendampingi 12 desa percontohan di Kabupaten Bone, sementara mitra lokal SCF dan LPMI mendampingi 24 desa lainnya. Lebih dari 700 orang, separuhnya perempuan, mengikuti pelatihan pertanian cerdas iklim dan mempraktikkannya di kebun belajar agroforestri serta tambak wanamina. Lebih dari 500 rumah tangga mengelola kebun dapur di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Dari sisi ekonomi, terbentuk 34 kelompok usaha agroforestri yang didampingi hingga tahap perizinan berupa Nomor Induk Berusaha, izin Pangan Industri Rumah Tangga, dan sertifikat halal. Salah satu produk unggulan adalah pupuk guano dari Desa Cabbeng yang telah memperoleh perlindungan kekayaan intelektual. Pembelajaran dari desa dihimpun dalam enam Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim yang dikelola lebih dari 120 petani pelopor.
Di tingkat bentang lahan, Land4Lives membentuk Kelompok Kerja Bentang Lahan lintas sektor dan bermitra dengan Forum DAS Sulawesi Selatan untuk menyusun Rencana Pengelolaan DAS Bila Walanae seluas 744.896 hektare yang kini telah disahkan. Pelaksanaan rencana itu disebut berpotensi meningkatkan kapasitas penyangga DAS hingga hampir sepertiganya.
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan