Kolomdata.id — Makassar – Rangkaian Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Makassar 2026 berakhir pada Minggu (1/11/2026) di Trans Studio Mall Makassar. Sepanjang gelaran tersebut, tercatat pembukaan 10.598 rekening baru dengan total volume transaksi penghimpunan dan penyaluran dana mencapai Rp230,94 miliar.

Angka itu merupakan akumulasi dua tahap kegiatan, yakni rangkaian pra-acara pada 19–29 Oktober 2026 dan acara utama pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Makassar menjadi kota terakhir penyelenggaraan SYAFIF pada 2026 setelah sebelumnya digelar di Banjarmasin dan Aceh, sehingga capaian di Sulawesi Selatan ini menjadi penutup rangkaian kampanye literasi keuangan syariah tahun ini.

Puncak acara diisi peluncuran Buku Panduan Literasi dan Referensi Dakwah Keuangan Syariah atau PELITA Syariah. Buku itu disiapkan sebagai pegangan bagi pendakwah, penyuluh agama, dan tokoh masyarakat ketika menyampaikan materi pengelolaan keuangan serta pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah kepada jamaah.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menjelaskan, PELITA Syariah dirancang agar edukasi keuangan masuk lewat jalur yang dekat dengan keseharian warga, termasuk ceramah dan khotbah. Sasaran akhirnya bukan sekadar pemahaman produk, melainkan daya tahan masyarakat terhadap penipuan, skema investasi bodong, pinjaman online ilegal, dan produk keuangan yang tidak berizin.

“Pertama tentu saja memperkuat literasi keuangan syariah masyarakat. Ini sangat penting karena jangan sampai orang melakukan inklusi tanpa literasi itu sendiri. Itu bisa bahaya. Yang kedua, tentu bagaimana membukakan akses,” kata Friderica di lokasi acara.

Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Farid Azhar Nasution menambahkan, literasi menjadi salah satu faktor penentu kepercayaan publik terhadap industri jasa keuangan. Menurutnya, kepercayaan tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus dirawat, antara lain melalui pemahaman masyarakat yang memadai atas produk, risiko, dan mekanisme penjaminan simpanan.

Peluncuran itu dihadiri pula Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Andi Winarno Ekaputra dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia Rahmat Hidayat, bersama jajaran pimpinan OJK serta perwakilan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, dan industri keuangan syariah. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan sambutan secara daring dan menilai buku tersebut bisa membantu para penggerak dakwah menyampaikan edukasi ekonomi syariah secara lebih sistematis dan aplikatif.

Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung bisa mengenal produk dan layanan keuangan syariah melalui 22 stan pelaku usaha jasa keuangan syariah dan dua stan ekosistem syariah. Berbagai gelar wicara dan kegiatan edukasi digelar di area yang sama, sementara rangkaian SYAFIF di Makassar juga diisi kegiatan Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 sebagai persiapan menuju forum pengembangan keuangan syariah yang lebih luas.

Antusiasme pasar tidak serta-merta menutup persoalan mendasar. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menempatkan indeks literasi keuangan syariah pada 43,07 persen, sementara indeks literasi keuangan nasional sudah 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan nasional 93,61 persen. Artinya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan jauh lebih cepat tumbuh dibanding pemahamannya, dan jurang itu paling lebar pada segmen keuangan syariah.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa OJK menempatkan literasi sebagai prasyarat, bukan pelengkap, dalam perluasan akses. Melalui SYAFIF dan PELITA Syariah, otoritas berharap pembukaan rekening dan transaksi yang tercatat di Makassar berjalan seiring dengan pemahaman warga soal akad, risiko, biaya, serta hak mereka sebagai konsumen.

Sumber: Harian Fajar