Kolomdata.id — Den Haag – Seruan aksi bertajuk Generatie Z Protest yang menyebar lewat media sosial berujung ketegangan di Den Haag, Belanda, Sabtu (31/10/2026). Massa muda diminta berkumpul di lapangan Malieveld, sementara pusat perbelanjaan kota bersiap menghadapi kemungkinan kerusuhan.

Sejak pagi, puluhan pemilik toko di kawasan pusat kota memasang papan kayu di depan etalase. Jaringan ritel besar seperti Tommy Hilfiger di Hoogstraat, Kruidvat, ICI Paris XL, hingga Guess di Grote Marktstraat mengambil langkah pengamanan, sebagian menutup gerai sepanjang akhir pekan. Pemerintah kota menyatakan siaga dan menyiapkan beberapa skenario, dengan kepolisian menempatkan personel dalam jumlah besar di titik-titik keramaian.

Ketegangan pertama muncul siang hari. Sekitar pukul 13.45 waktu setempat, polisi menahan empat orang karena memakai penutup wajah, pelanggaran atas aturan demonstrasi setempat. Petugas memeriksa identitas banyak anak muda di sekitar Malieveld dan mengarahkan mereka menjauh dari area tersebut.

Memasuki sore, kerumunan bergerak ke Korte Voorhout, kawasan di depan gedung Kementerian Keuangan. Polisi berulang kali meminta peserta kembali ke Malieveld, tetapi sebagian tidak mengindahkan. Unit pengendalian massa akhirnya bergerak, dan kepolisian mencatat lebih dari sepuluh orang ditahan, antara lain karena membawa penutup wajah serta kembang api ilegal.

Situasi bertambah rumit karena kelompok suporter klub ADO Den Haag menyatakan akan “melindungi” kota dan para pedagang dari potensi penjarahan. Sebagian dari mereka berkumpul di kawasan Plein, lalu bergerak ke arah Korte Voorhout saat aparat mulai bertindak.

Di balik kerusuhan, tuntutan peserta sebenarnya menyangkut persoalan ekonomi sehari-hari. Juru bicara penyelenggara menyebut hidup di Belanda kian tidak terjangkau: upah minimum untuk pekerja berusia 18 tahun dinilai terlalu rendah, harga kebutuhan pokok naik, sewa rumah sangat tinggi, bunga pinjaman pendidikan terus bertambah, dan wacana wajib militer menambah beban generasi muda.

Aksi di Amsterdam akhirnya dibatalkan penyelenggara, kelompok aksi Fenix, karena khawatir acara diambil alih kelompok lain yang tidak sejalan, termasuk simpatisan sayap kanan. Meski demikian, seruan untuk turun ke jalan tetap beredar di ruang digital dan membuat aparat serta pelaku usaha tetap waspada.

Gelombang protes serupa terjadi di sejumlah negara Eropa pada hari yang sama. Di Jerman, puluhan ribu orang menolak wajib militer dan menuntut tambahan investasi pendidikan. Di Prancis, demonstrasi yang didominasi anak muda memasuki pekan ketiga, sementara di Portugal ribuan warga memprotes kebijakan sewa rumah yang makin memberatkan.

Dari Den Haag, diaspora Indonesia ikut menyoroti persoalan tersebut. Liputan Harian Fajar menyoroti bagaimana warga Indonesia di Belanda membaca gelombang protes ini sebagai cermin tekanan biaya hidup yang juga dirasakan di Tanah Air, mulai dari harga pangan, sewa tempat tinggal, hingga terbatasnya lapangan kerja bagi angkatan muda.

Bagi komunitas Indonesia di Belanda, aksi itu bukan sekadar peristiwa lokal Eropa. Persoalan yang sama, yakni kesenjangan antara pendapatan dan biaya hidup, dinilai relevan dengan kondisi banyak keluarga di Indonesia, terutama generasi muda yang baru masuk pasar kerja dan belum memiliki jaminan sosial yang mapan.

Sumber: Fajar.co.id