Kolomdata.id – Jakarta – Federasi kebugaran Hyrox tengah mengevaluasi sejumlah aturan pertandingan menyusul insiden yang menimpa atlet asal Australia, Joanna Wietrzyk, di Beijing, China. Wietrzyk menjadi perhatian publik setelah tetap melanjutkan dan menuntaskan perlombaan kendati mengalami diare di tengah lintasan. Momen tersebut terekam kamera dan menyebar cepat melalui media sosial, lalu memantik diskusi soal standar kesehatan, aspek keselamatan, hingga prosedur penanganan kontaminasi selama kompetisi berlangsung.

Hyrox sendiri pertama kali diperkenalkan di Jerman pada 2017. Sejak itu, ajang ini tumbuh menjadi kompetisi kebugaran yang digelar di banyak negara. Masuknya Hyrox ke pasar China daratan baru terjadi pada akhir 2024. Format perlombaannya memadukan lari dengan beragam latihan fungsional. Peserta dituntut menuntaskan lari sejauh 1 kilometer sebelum beralih ke sejumlah stasiun kerja, mulai dari mesin dayung, mendorong kereta luncur, burpee, lempar bola obat, sampai berjalan sambil membawa karung pasir.

Jauh sebelum kejadian di Beijing, buku peraturan Hyrox sebenarnya sudah memuat sejumlah larangan bagi peserta di lintasan. Aturan itu antara lain melarang atlet membuang sampah sembarangan, meludah, dan membersihkan hidung di lantai arena. Meski demikian, belum ada ketentuan yang secara tegas mengatur situasi ketika seorang peserta buang air besar di lintasan selama perlombaan berlangsung.

Kondisi itu membuat federasi bergerak melakukan peninjauan. Regulasi anyar disiapkan untuk menutup celah aturan yang selama ini belum mengakomodasi kejadian serupa. Penyesuaian mencakup pemberlakuan status did not finish atau DNF hingga kemungkinan diskualifikasi bagi atlet yang berada dalam kondisi serupa.

Evaluasi ini menegaskan bahwa Hyrox tidak hanya menyoroti performa fisik peserta, tetapi juga kebersihan dan keamanan arena. Langkah tersebut diambil agar insiden di Beijing tidak terulang dan standar kompetisi tetap terjaga di setiap negara penyelenggara.

Sumber: Okezone