Pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Cabang Luwu Timur memicu kontroversi besar menjelang ajang Pra Porprov Sulawesi Selatan 2025. Alih-alih memberdayakan talenta lokal yang berlimpah, mereka justru mendatangkan dua pembalap bayaran dari Kota Palopo, yaitu Muh Syaki Syaiful dan Muh Al Farel. Keputusan ini sontak menuai kekecewaan publik dan komunitas otomotif setempat.
Kompetisi balap motor tersebut dijadwalkan berlangsung di Sirkuit Atakkae, Sengkang, Kabupaten Wajo, pada Jumat hingga Sabtu, 5-6 September 2025, dan telah resmi dimulai hari ini. Padahal, daftar pembalap potensial asal Luwu Timur terbilang panjang dan mengesankan. Nama-nama seperti Zaki dari Kecamatan Wotu memiliki rekam jejak mentereng, bahkan sempat menjadi murid sekolah balap D45 Road Racing Academy milik Dedy Fermady dengan dukungan penuh dari GVK Racing Team Malili.
Tak hanya itu, adik dari M Badli yang dikenal sebagai pembalap Asia asal Kecamatan Burau juga sempat unjuk gigi pada even Bupati Road Race Kejurprov Putaran Ke-2 IMI Sulsel di Sirkuit Taman Sayang Puncak Indah, Malili, beberapa waktu lalu. Sejumlah nama lain seperti Invael dari Nindara Racing Team (Towuti), Aldy Uramako dari KBR Wasuponda, serta M Hilal dan Hafiz dari Sorowako juga kerap menghiasi podium. Alfred Yapet dari Towuti dan deretan pembalap binaan Malili Racing Team (MRT) pun dikenal sebagai langganan juara.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa seluruh pembalap muda ini telah memiliki catatan prestasi yang solid, masing-masing pernah meraih podium. Invael, yang usianya masih sangat belia, baru saja menorehkan prestasi dengan finish di posisi ketiga pada kelas Beginner di ajang Honda Dream Cup. Dari sisi persyaratan usia, mereka semua memenuhi syarat karena batas minimal kelahiran 2004, dan bahkan Aldy Uramako yang tertua lahir pada 2005.
Menurut informasi yang dihimpun, para pembalap lokal ini sebenarnya telah diusulkan sejak April 2025, jauh sebelum even Bupati Cup Lutim digelar. Namun secara mengejutkan, nama-nama mereka dicoret sepihak oleh pengurus IMI tanpa melalui mekanisme seleksi yang jelas. Posisi mereka kemudian digantikan oleh dua pembalap dari Palopo.
Seorang narasumber yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa seluruh perwakilan pembalap dari tiap kecamatan telah diajukan, namun langsung dicoret dan diganti dengan tunjuk langsung. Ia menduga ada biaya sewa sekitar Rp 10 juta per orang untuk kedua pembalap pengganti tersebut. Menurutnya, dana sebesar itu seharusnya bisa dialokasikan untuk biaya pendidikan balap bagi atlet lokal Luwu Timur yang potensial.
Lebih lanjut, narasumber tersebut menilai bahwa ajang Pra Porprov sejatinya bukanlah level kompetisi yang terlalu tinggi. Banyak pembalap lokal yang sudah malang melintang di even yang lebih bergengsi. Namun yang membedakan, Pra Porprov membawa nama harum daerah dan menjadi sarana penting untuk mengasah kemampuan atlet. Ia menyayangkan keputusan tersebut karena mengabaikan aspek pembinaan jangka panjang.
Menanggapi hal ini, Ketua IMI Luwu Timur, Hardiansyah, memberikan klarifikasi bahwa sejumlah pembalap andalan daerahnya ternyata telah terikat kontrak dengan kabupaten lain. Zaki, misalnya, sudah dikontrak oleh Kabupaten Wajo. Sementara itu, Hafiz dan adik M Badli juga telah mengonfirmasi bahwa mereka tidak bisa bergabung karena kesibukan kontrak yang sama. Dengan waktu yang semakin mepet, Hardiansyah mengaku mengambil keputusan cepat untuk menyewa pembalap Palopo yang kebetulan memiliki jadwal longgar.
Ia juga menambahkan bahwa pembalap lokal lainnya kurang dikenal secara luas. Sebagai pengurus yang relatif baru, dengan masa kepemimpinan belum genap satu tahun, Hardiansyah mengaku bertanggung jawab untuk memberikan penampilan terbaik bagi kontingen Luwu Timur. Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi performa maksimal di ajang yang akan datang.

Tinggalkan Balasan