Menu

Mode Gelap
Dicecar Netizen, HM Siddiq BM : Terima Kasih Masyarakat Tana Luwu Hendak Melarikan Diri Ke Parepare, Polisi Berhasil Tangkap Pelaku Pencurian Bermodus Alihkan Perhatian Penjual di Lutim  Kelurahan Bumi Harapan Punya Peta Wilayah Berkat Mahasiswa KKN-T Unhas, Dilengkapi Kode QR Juga HM Siddiq BM : Justru Saya Tak Ingin Pembentukan Luwu Tengah Terhambat, Kok Videonya Terpotong  Dukung Legalitas Usaha, KKN 115 Unhas Dampingi UMKM Terbitkan Sertifikasi Halal KKLR Tegaskan Provinsi Luwu Raya Sudah Final Secara Konseptual

News

Begini Pengakuan Ibu Hamil yang Gagal Ditangani RSUD I Lagaligo, Mengharukan


					Ilustrasi ibu hamil di RSUD I Lagaligo (AI) Perbesar

Ilustrasi ibu hamil di RSUD I Lagaligo (AI)

Kolomdata.id — Suaranya terdengar serak. Herlina berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Demikian sakit hatinya . Ditahan agar tak meluap.

 

Herlina berusaha berpikir sehat. Pun dengan  berprasangka positif setelah kehilangan jabang bayi di dalam perutnya, Selasa, (02/09/2025).

 

Di RSUD I Lagaligo, Herlina didampingi keluarga, sahabat, dan kedua orang anaknya. Sementara suaminya, belum pulang. Masih bekerja di Morowali, Sulawesi Tengah.

 

“Saya berusaha ikhlas. Humas rumah sakit sudah datang minta maaf. Kesehatan ku saya pikir sekarang. Tapi keluarga dan sahabat yang belum bisa terima. Mereka marah,” kata Lina sapaan Herlina kepada kolomdata.id.

 

Lina tahu betul, bagaimana perasaan keluarga dan sahabat yang menemaninya. Sebab, dua bulan yang lalu (Juli), ia ke pertama kali masuk RSUD I Lagaligo Wotu karena pendarahan. Sekitar 10 hari Lina dirawat lalu dipulangkan.

 

Akhir bulan Agustus, sekitar dua Minggu yang lalu, Lina dilarikan ke RSUD I Lagaligo lagi. Pendarahan lagi. Dirawat selama tujuh hari. Kemudian diminta keluar dari RSUD dengan modal obat penguat kandungan. Sama seperti bulan lalu.

 

“Saya minta korek saat itu. Dokter bilang tidka bisa. Karena masih bertahan janin. Saya diminta pulang dan diminta tidak banyak gerak. Hanya makan makan tidur. Setelah dua hari,” kenang ibu berusia 30 tahun ini.

 

Dua hari tinggal di rumah sambungnya, pendarahan tidak kunjung berhenti. Lina takut dengan keselamatan bayi dan dirinya. “Itu mi saya beranikan diri ke dokter praktek di Mangkutana. Hasil USG, sudah tidak ada mi pale anakku,” ungkapnya.

 

Perasaannya campur aduk. Kecewa dan ingin marah. Semua perasaannya diluapkan dengan air mata bercucuran. “Dari dokter praktek, saya diantar ke RSUD I Lagaligo lagi. Dan ini yang ketiga kalinya saya dirawat di sini,” hitungnya.

 

Dokter yang menangani Lina sebelumnya sudah diganti. Dan Lina diminta agar tidak membesarkan masalah ini ke publik. Dokter tak ingin tertekan saat menanganinya.

 

Begitu ungkap Lina. Makanya, Lina mengaku sudah ikhlas. Apalagi, sudah ditangani pihak rumah sakit dengan lebih baik dari sebelumnya. Dia tak ingin, kejadian yang menimpanya dirasakan keluarga lainnya. Cukup dirinya saja.

 

“Mudah-mudahan RS tidak lalai lagi. Ini masalah nyawa. Orang mungkin lihat saya sehat di luar. Di dalam ini tidak. Masih bisakah bicara. Bisaka senyum. Isi perutku tidak tahu,” akunya.

 

Sebelum menutup panggilan telepon, Lina bilang, pelayanan menggunakan BPJS harus diperbaiki. “Beda memang pelayanan yang dibayar dengan lewat BPJS pemerintah,” imbuhnya kecewa. (*)

 

Baca Lainnya

Komisi D DPRD Sulsel Telusuri Status Lahan PLTA Karebbe, Siap Turun ke Luwu Timur Usai Konsultasi di Kementerian dan BPN

2 Februari 2026 - 15:15 WITA

Smartwatch Farhan Gunawan Terdeteksi, Ada Harapan Kehidupan

19 Januari 2026 - 02:40 WITA

Tim Rescue Kesulitan Evakuasi Korban

18 Januari 2026 - 14:01 WITA

Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat di Bagian Utara Puncak Gunung Bulusaraung, Operasi Pencarian Terus Diperluas

18 Januari 2026 - 02:00 WITA

Pesawat Lost Contact di Sulsel, Basarnas Makassar Lakukan Operasi SAR Terpadu di Gunung Bulusaraung 

17 Januari 2026 - 13:06 WITA

Trending di News