Kehilangan anak yang dikandungnya pada Selasa, 02 September 2025, menjadi duka mendalam bagi Herlina di RSUD I Lagaligo. Ia tengah berjuang melawan rasa sakit yang tak hanya bersifat fisik, tetapi juga batin, usai sang jabang bayi tak lagi dapat dipertahankan. Di tengah kesedihan itu, ia mencoba menata hati untuk tetap berpikir jernih dan berprasangka baik, meski harus menahan perih yang begitu dalam.
Di ruang perawatan, ibu berusia 30 tahun yang akrab disapa Lina ini ditemani oleh keluarga, sahabat, dan kedua buah hatinya. Namun, suaminya belum dapat hadir karena masih terbentur tugas pekerjaan di Morowali, Sulawesi Tengah. Lina pun menceritakan bahwa pihak humas rumah sakit telah datang dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
Wanita itu secara sadar berusaha untuk mengikhlaskan kejadian yang menimpanya. Ia mengaku lebih memilih untuk memikirkan kondisi kesehatannya saat ini. Kendati demikian, ia memahami mengapa keluarga serta sahabat yang mendampinginya masih diliputi kemarahan dan belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut.
Rasa kecewa keluarga dan sahabatnya itu bukan tanpa alasan. Ini bukan kali pertama Lina harus berurusan dengan rumah sakit tersebut. Pada Juli lalu, ia pertama kali dirawat di RSUD I Lagaligo Wotu akibat mengalami pendarahan. Setelah sekitar sepuluh hari menjalani perawatan, ia diizinkan untuk pulang.
Tak berselang lama, di sekitar akhir Agustus atau dua minggu yang lalu, kondisi pendarahan itu kembali menyerangnya. Ia pun kembali dilarikan ke rumah sakit yang sama dan menjalani rawat inap selama tujuh hari. Setelah itu, ia dipulangkan lagi dengan hanya dibekali obat penguat kandungan, persis seperti perlakuan yang ia terima di bulan sebelumnya.
Lina pernah mencoba meminta tindakan koreksi saat itu. Namun, dokter yang menanganinya kala itu menyampaikan bahwa prosedur tersebut tak bisa dilakukan karena janinnya masih bertahan. Ia justru disarankan pulang dan diminta untuk tidak banyak bergerak, hanya cukup dengan makan dan tidur. Saran itu pun ia jalani selama dua hari.
Setibanya di rumah sambungnya, pendarahan yang dialaminya tidak juga kunjung reda. Kekhawatiran terhadap keselamatan diri dan bayinya semakin besar. Dengan tekad yang sudah bulat, ia memberanikan diri menemui dokter praktik di Mangkutana. Melalui pemeriksaan USG, kabar yang tidak diinginkan pun datang: sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada janin yang dikandungnya.
Campur aduk menjadi satu dalam perasaannya. Kecewa, marah, semuanya larut dalam tangisan yang tak terbendung. Dalam kondisi itu, ia kembali diantar ke RSUD I Lagaligo. Ini merupakan kali ketiga ia menjalani perawatan di fasilitas kesehatan tersebut. Ia pun menceritakan bahwa dokter yang dulu menanganinya kini telah diganti dengan yang baru. Lina bahkan diminta untuk tidak menyebarkan masalah ini ke publik oleh pihak terkait, karena dokter yang bertugas tidak ingin merasa tertekan ketika menangani pasien.
Atas dasar itulah, Lina mengaku sudah ikhlas, terlebih kini pihak rumah sakit dinilai telah memberikan pelayanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak ingin musibah yang ia alami turut dirasakan oleh keluarga-keluarga lain. Cukup dirinya saja yang menjadi contoh atas kelalaian tersebut.
Ia berharap kejadian serupa tak akan terulang lagi di kemudian hari. Menurutnya, masalah ini menyangkut nyawa seseorang. Ia mengungkapkan bahwa orang-orang mungkin melihat dirinya sehat dari luar, tetapi di dalam tubuhnya, ada hal yang tak diketahui banyak orang. Meski ia masih bisa berbicara dan tersenyum, tetapi isi perutnya sudah tiada.
Sebelum mengakhiri pembicaraannya, Lina turut menyoroti pelayanan kesehatan yang ia terima melalui program BPJS. Ia merasa pelayanan antara pasien yang membayar dan pasien yang menggunakan jaminan pemerintah itu jelas berbeda. Hal tersebut menjadi kekecewaan tambahan yang ia rasakan di tengah duka yang sedang ia alami.

Tinggalkan Balasan