Kolomdata.id — Kondisi ekonomi saat ini tidak menentu. Harga bahan pokok terus membubung. Mengatasinya, butuh menggerakkan sektor ekonomi keluarga.
Anggota DPRD Lutim, Mahading bilang, sektor ekonomi keluarga hanya bisa digerakkan oleh ibu atau perempuan. Kehebatannya mengelola keuangan jadi modal utama dalam menggerakkan ekonomi keluarga.
“Ibu yang diberikan uang Rp2 juta, mampu menghidupi keluarganya di rumah selama 1 bulan. Berbeda halnya jika uang itu dikelola bapak-bapak. Jangankan sebulan, seminggu saja sudah habis,” ungkap Mahading saat melakukan temu konstituen dalam rangka reses perseorangan masa sidang ke III tahun sidang 2025/2026 daerah pemilih I kecamatan Malili, Kecamatan Wasuponda di Halaman Kantor Desa Puncak Indah, Jum’at, 14 Agustus 2026.
Ratusan orang yang didominasi ibu-ibu saat itu dibuat tersenyum puas. Kalimat ini berhasil membuat mereka sangat terhibur dan aktif bertanya. Bagaimana caranya menggerakkan sektor ekonomi keluarga?
Anggota DPRD dari Fraksi PDI-P ini ingat betul, bagaimana ibu-ibu selalu menyediakan kue-kue tradisional sederhana namun sangat nikmat. Yang unik, bentuk kue tradisional ini sangat berhubungan dengan anatomi tubuh manusia (laki-laki). Misalnya gogos dengan telur asin. Onde-onde dengan kelapa parut.
“Semua ini punya alasan. Sebab di zaman dulu, orang tua kita seorang pelaut. Ibu selalu merindukan suaminya. Sehingga kue yang disajikan sangat berhubungan dengan anatomi tubuh kita,” jelasnya yang membuat hadirin yang hadir sambil tertawa kecil. Ibu-ibu kebanyakan senyum-senyum.
Camat Malili, Hasimning, Kepala Desa Puncak Indah, Muh Cakir yang duduk disamping Mahading juga ikut melempar senyum. Ini kisah yang membuat suasana reses begitu cair dan penuh keakraban.
Kemampuan membuat kue tradisional ini sambung Mahading, nyaris dikuasai para ibu rumah tangga. Makanya, para ibu butuh berusaha untuk menambah penghasilan. Mengingat, harga bahan bakar, bahan pokok, terus meningkat.
Para ibu bebernya, bisa memanfaatkan program bantuan Rp50 juta setiap pelaku UMKM yang ditangani Dinas Koperindag dapat dimanfaatkan para ibu rumah tangga untuk mulai berusaha. Ataukah memanfaatkan bentuan sosial yang tersedia di Dinas Sosial.
“Silahkan ajukan proposalnya ke dinas terkait. Jika proposalnya bagus, insyaallah dapat bantuan untuk memulai usaha demi mendongkrak ekonomi keluarga,” bebernya.
Mantan Ketua KPU Lutim ini bilang, postur APBD Lutim berada diangka Rp2,1 triliun. Bahkan diprediksi mencapai angka Rp2,3 triliun. Angka ini, tentunya sangat banyak. Namun jika sudah didistribusikan ke semua sektor dan menyentuh 128 desa/kelurahan, uang ini tidak cukup sama sekali.
“Prinsip APBD harus inklusif. Semua untuk rakyat. Tidak boleh APBD tidak tersentuh untuk semua masyarakat,” ungkapnya.
Dari segi postur belanja APBD, biaya belanja pegawai negeri tahun 2027, boleh lebih 30 pesen. Saat ini belanja pegawai mencapai 36 persen. Belanja operasionalnya mencapai Rp600 miliar. Sehingga belanja untuk rakyat, sisa Rp1,5 triliun. Itupun uang ini harus digunakan lagi untuk membiayai beasiswa, baju seragam, batuan lansia, dan program lainnya yang cukup mengurus banyak anggaran.
“Di sisi lain, APBD tergantung dari TKD pusat. Beberapa daerah dipotong. Kalau Lutim jiga dipotong, tentu akan turun akan turun. Kecuali dinas punya cara lain untuk meningkatkan Pendapatan. Dan selama ini, kita tergantung kepada Vale. Sehingga di tengah sulitnya ekomoni saat ini, sangat butuh menggerakkan sektor ekonomi keluarga,” imbuhnya. (*)

Tinggalkan Balasan