Kisah Aan Firmansyah di Qingdao Demi Belajar Bahasa Mandarin

 

Jadi ceritanya begini; waktu pertama kali saya sampai di Qingdao, rasanya campur aduklah. Semuanya serba Mandarin. Mau ngomong apa-apa susah, karena hampir 90 persen orang di sini nggak bisa bahasa Inggris.

 

Jadi mau nggak mau, andalan saya ya Google Translate di HP. Nunjuk-nunjuk layar, mereka baca, kadang ngerti kadang nggak. Ya udah, namanya juga merantau.

 

Dari pagi saya udah kelaparan. Cuma makan roti doang, karena bingung mau cari makan di mana. Saya jalan kaki ke mana-mana nyari restoran halal, susah banget. Belum lagi semua pembayaran di sini nggak ada yang pakai cash. Serba di aplikasi, namanya Alipay.

 

Jadi waktu itu saya pengen makan mie, saya mau bayar pakai uang tunai, eh mereka nggak terima. Katanya harus scan. Saya bingung dong, akhirnya minta tolong orang buat bantuin bayar pakai Alipay-nya mereka.

 

Terus soal komunikasi, mereka di sini nggak kenal yang namanya WhatsApp. Aplikasi chat mereka itu WeChat. Jadi kalau saya bilang “WhatsApp”, mereka bengong. Ya udah, saya harus install WeChat juga biar bisa komunikasi.

 

Tapi ada sisi bagusnya juga sih. Udara di sini bersih banget, nggak ada polusi. Segar banget buat napas. Soalnya semua kendaraan pakai listrik, dari mobil, motor, sampai sepeda. Jadi ya, adem lah. Tapi cuacanya dingin banget, sampai 2 derajat!  Apalagi kampusnya deket laut, jadi anginnya kencang banget. Brrr.

 

Nah, intinya hidup di Cina ini, buat yang Muslim, cuma perkara makanan aja sih. Hampir semua restoran di sini non-halal. Kalaupun ada yang halal, biasanya restoran dari minoritas Cina perbatasan, atau restoran orang India dan Pakistan.

 

Jadi saya harus pintar-pintar baca huruf Halal dalam bahasa Mandarin. Tapi alhamdulillah, orang-orang di sini baik-baik semua. Kalau restorannya bukan halal, mereka juga larang kita makan di tempatnya. Jadi nggak usah takut salah makan.

 

Solusi terbaik buat tinggal di sini? Ya masak sendiri lah! Beli bahan sendiri, masak sendiri. Hemat, halal, dan pastinya lebih enak di lidah.

 

Oleh : Aan Firmansyah