Simulasi Rencana Tindakan Darurat (RDT) Bendungan Seri Sungai Malili yang digelar PT Vale Indonesia di Lapangan Merdeka, Puncak Indah, Malili, pada Rabu (18/06/26) berlangsung dramatis dan menegangkan. Dalam skenario latihan tersebut, sirene peringatan berbunyi nyaring selama 30 menit sebagai penanda bahwa situasi telah berubah dari status siaga menjadi awas, dan akhirnya dinyatakan aman terkendali. Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, bersama Wakil Bupati Puspawati Husler, turun langsung menjenguk warga yang mengungsi di lokasi tersebut, memastikan tidak ada korban luka parah akibat simulasi keadaan darurat ini.
Kejadian bermula ketika elevasi air di bendungan Sungai Larona dikabarkan hampir mencapai puncak, dengan volume yang terus bertambah setiap menitnya. Kondisi memprihatinkan ini memaksa otoritas setempat untuk segera mengaktifkan sirine tanda bahaya. Bunyi sirine yang keras dan terputus-putus dengan pola satu detik berbunyi dan lima detik mati sontak membuat warga di Kelurahan Malili dan Wewangriu berhamburan keluar rumah sambil membawa barang-barang berharga mereka.
Dalam situasi genting tersebut, Bupati Luwu Timur tidak henti-hentinya berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk manajemen PT Vale, aparat kepolisian, TNI, BPBD, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya. Setiap elemen mendapat tugasnya masing-masing. Perintah tegas untuk segera melakukan evakuasi disampaikan langsung oleh orang nomor satu di Kabupaten Luwu Timur tersebut.
Sejumlah kendaraan operasional milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur dikerahkan satu per satu ke berbagai titik rawan. Beberapa di antaranya meluncur menuju Desa Harapan, Pongkeru, Pasi-pasi, dan Puncak Indah. Sementara itu, kendaraan lainnya diarahkan ke Kelurahan Malili, Wewangriu, Baruga, serta Balantang untuk mempercepat proses penyelamatan.
Tim rescue yang diterjunkan langsung bergerak cepat melakukan evakuasi terhadap warga yang dianggap paling rentan. Kelompok lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak menjadi prioritas utama untuk segera diamankan ke tempat yang lebih aman. Pada saat yang bersamaan, air sungai Malili mulai meluap ke jalan raya dan perlahan-lahan merembes masuk ke pemukiman warga, memperparah situasi yang sudah tegang.
Sirine kembali berbunyi, kali ini dengan nada panjang yang tidak terputus selama dua menit. Perubahan pola bunyi ini menandakan bahwa kondisi telah meningkat dari sekadar siaga menjadi status awas, yang berarti bahaya semakin dekat dan mengancam keselamatan jiwa. Menyikapi hal itu, petugas BPBD bersama relawan dan tim medis dikerahkan secara maksimal untuk menangani situasi.
Ambulans dikirim menuju Desa Wewangriu untuk menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan medis. Sementara itu, relawan, dapur umum, mobil logistik, serta tenda darurat dipusatkan di Lapangan Wisma Verbeck dan Lapangan Merdeka sebagai pusat pengungsian. Posko Komando dan Posko Kesehatan juga didirikan untuk memastikan koordinasi dan pelayanan kesehatan berjalan lancar.
Seluruh warga yang tersebar di tujuh desa dan satu kelurahan di Kecamatan Malili diarahkan menuju titik kumpul atau master poin yang telah ditentukan. Masyarakat juga diminta untuk mengikuti petunjuk dari aplikasi EWS sebagai panduan evakuasi. Namun, jika jaringan seluler mengalami gangguan, warga diimbau untuk mendengarkan pengumuman dari warning plate system yang memberikan arahan menuju lokasi aman.
Setelah situasi dinyatakan aman terkendali, Bupati Luwu Timur beserta wakilnya mendatangi para pengungsi yang berada di Lapangan Merdeka Puncak Indah. Beberapa warga terlihat terbaring lemas akibat kelelahan, namun secara keseluruhan tidak ada laporan mengenai korban luka serius. Pendataan terhadap jumlah pengungsi dan kondisi mereka juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini.
Dalam sambutannya, Irwan Bachri Syam menjelaskan bahwa skenario simulasi ini menggambarkan dampak yang bisa menyentuh hingga 12 ribu jiwa dengan potensi kerugian material mencapai Rp300 miliar. Menurutnya, angka tersebut menjadi pengingat betapa besarnya ancaman yang mengintai, sehingga semua pihak harus terus berdoa agar bencana tersebut tidak pernah benar-benar terjadi. Ia menekankan bahwa upaya mitigasi semacam ini sangat penting untuk meminimalisir risiko.
Bagi Bupati, pelaksanaan RDT merupakan agenda yang sangat krusial dan ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan setiap tiga tahun sekali, bukan lima tahun sekali. Frekuensi yang lebih sering diharapkan mampu menjaga kesiapsiagaan dan selalu menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana. Daerah yang berjulukan Bumi Batara Guru ini memang perlu terus berbenah dalam hal kesiapan tanggap darurat. Simulasi yang cukup menegangkan ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat, baik pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat umum.

Tinggalkan Balasan