Kolomdata.id — Iptu Malkadri Ibrahim sudah sepekan bertugas di Kabupaten Luwu Timur (Lutim). Sebagai Kasat Lantas, ada banyak tugas yang menanti.

 

Yang paling menonjol, siswa-siswi yang membawa kendaraan bermotor ke sekolah paling rawan kecelakaan. Tak sedikit pula dari sekian banyak kasus kecelakaan selamat. Laka terbaru, siswa berboncengan meninggal dunia akibat laka di Cerekang, Desa Manurung.

 

Kemudian, jalan nasional yang menjadi perlintasan perusahaan pertambangan juga menjadi tugas tambahan. Mengingat, jalan umum yang dapat gunakan perusahaan pertambangan ini dapat memicu kecelakaan fatal.

 

“Ini tugas penting. Khusus anak sekolah ini, dibutuhkan kerjasama antar stakeholder. Jadi Polisi Lalulintas menjadi penanggung jawabnya, kemudian Dinas Pendidikan sebagai Pemerintahan daerah mendukung dengan kebijakannya, dan yang paling penting adalah keterlibatan orang tua,” kata Iptu Malkadri saat jumpa dengan jurnalis di Mixi, Hotel I Lagaligo Malili, Selasa, 18 Agustus 2026.

 

Iptu Malkadri didampingi Kanit Lantas Polres Luwu Timur, Ipda Distra, anggota lantas, Aiptu Samad, dan Kasubsi Humas Polres Lutim Bipka Tasbi Sofyan. Baginya, kasus siswa berkendara ke sekolah dihadapi semua daerah.

 

Meski begitu, ia punya kesiapan tersendiri. Agenda sosialisasi di sekolah tentu akan dibuat lebih menarik. Bagaimana polisi bisa dekat secara emosional dengan para siswa-siswi nantinya.

 

Kemudian, bagaimana orang tua siswa ikut menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya laka lantas. “Saya punya pengalaman saat tugas di Makassar pada tahun 2007. Saat itu, saya membina siswa karena sering balapan di sore hari. Orang tuanya saya panggil,” kenangnya.

 

“Saat orang tua siswa itu tiba, orang tua ini membela anaknya. Katanya, saya hanya menghalangi anaknya ke sekolah karena menangkap. Padahal, anak itu balapan saat pulang sekolah. Kami hanya ingin membina anak dan berharap orang tuanya mengerti,” ungkapnya.

 

“Naas, dua pekan setelah itu, anak itu tak panjang umur. Dia kecelakaan. Tubuhnya dilidas truk. Dan saya yang angkat jenazahnya. Orang tuanya, tak pernah melihat saja,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Mantan Kanit Regident Polres Bulukumba ini menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan. Baginya, kasus kecelakaan yang melibatkan anak sekolah hal yang serius dan butuh penanganan serius dari berbagai pihak. Sebisa mungkin, lakalantas diminimalisir dan tak sampai merenggut nyawa.

 

“Soal jalan nasional jadi perlintasan kendaraan perusahaan tambang ini, saya sendiri nanti cek. Bagaimana SOP-nya. Dan harus mendahulukan kendaraan umum. Tidak boleh mendahulukan kendaraan perusahaan,” tegasnya.

 

Meski terbatas personil, pengaturan akan dibuat lebih efisien. Dari 38 personil (plus perwira), mengurangi lalulintas di 11 Kecamatan cukup rumit. Tapi inilah tantangannya.

 

“Untuk Tanah Luwu ini boleh dikatakan saya cukup ngerti karakteristiknya. Saya 1 tahun 3 bulan tugas di Kabupaten Luwu dan 11 bulan tugas di Kabupaten Luwu Utara. Jadi cukup mengerti soal karakteristik daerah dan masyarakatnya,” imbuhnya. (*)