JAKARTA, KOLOMDATA.ID – Menghadapi tantangan regenerasi dan isu lingkungan yang makin kompleks, Program SMILE mendorong penguatan kapasitas kader Immawati melalui kepemimpinan yang inklusif dan berkelanjutan. Strategi tersebut dipaparkan dalam Pendidikan Khusus Immawati Paripurna (DIKSUSWATI Paripurna) yang berlangsung di PPSD Kemendikdasmen, Sabtu (27/6).
Koordinator Program SMILE (Sustainable, Multicultural, Inclusive, and Local Empowerment), Farah Dzikrina Adiba, berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Khusus Immawati Paripurna.
Dalam sesi yang mengangkat tema “Strategi Kepemimpinan Perempuan dalam Mengawal Isu Berkelanjutan”, Farah menekankan pentingnya penguatan kapasitas kader perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang semakin kompleks.
Menurut Farah, kepemimpinan perempuan tidak cukup hanya hadir dalam struktur organisasi, tetapi juga harus mampu membangun sistem, memperkuat kaderisasi, serta menciptakan ruang diseminasi pengetahuan yang berkelanjutan.
“Kaderisasi merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan. Organisasi membutuhkan regenerasi yang terencana agar pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai perjuangan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi organisasi perempuan, termasuk Immawati, adalah terbatasnya kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk membangun ekosistem kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin perempuan yang adaptif, progresif, dan berperspektif keberlanjutan.
Selain kaderisasi, Farah juga menyoroti pentingnya membangun sistem organisasi yang mampu mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik-praktik baik yang telah dilakukan kader di berbagai daerah. Menurutnya, pengalaman dan keberhasilan suatu wilayah harus menjadi pengetahuan kolektif yang dapat dipelajari dan direplikasi oleh wilayah lainnya.
“Jangan sampai kegiatan yang sudah dilakukan dengan penuh kerja keras hanya tersimpan dalam laporan. Pengalaman tersebut perlu ditulis, didokumentasikan, dan disebarluaskan agar menjadi inspirasi bagi kader di daerah lain,” katanya.
Dalam pemaparannya, Farah turut mendorong kader Immawati untuk aktif melakukan aktivisme media melalui penulisan artikel, opini, siaran pers, maupun kampanye digital. Media dinilai sebagai instrumen strategis untuk memperluas pengaruh gerakan perempuan sekaligus menyuarakan berbagai isu keadilan sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia juga berbagi pengalaman berbagai program pemberdayaan dan ecoliterasi yang dijalankan SMILE bersama mitra di sejumlah daerah, mulai dari penguatan literasi lingkungan, mitigasi bencana berbasis komunitas, pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga pelatihan jurnalistik lingkungan.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program, tetapi membangun ekosistem gerakan yang berkelanjutan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, media, dan pemerintah.
Pada sesi diskusi, peserta DIKSUSWATI Paripurna dibagi ke dalam beberapa kelompok tematik yang membahas isu kepemimpinan, aktivisme media, pemberdayaan ekonomi, penguatan sistem organisasi, serta kesetaraan gender dan inklusi sosial. Melalui forum tersebut, peserta diajak merumuskan gagasan, strategi, dan aksi nyata yang dapat diimplementasikan di wilayah masing-masing.
Farah berharap DIKSUSWATI Paripurna dapat menjadi ruang strategis untuk melahirkan kader-kader Immawati yang memiliki kapasitas kepemimpinan, kepekaan sosial, kemampuan advokasi, serta komitmen kuat dalam mengawal agenda pembangunan berkelanjutan.
“Perempuan harus menjadi bagian penting dalam proses perubahan sosial. Kepemimpinan perempuan yang kuat akan melahirkan gerakan yang tidak hanya mampu menjawab tantangan hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan