Kolomdata.id — Makassar – Kualitas udara di Kota Makassar dan sekitarnya memburuk dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan partikulat halus PM2,5 di wilayah Maros, konsentrasi polutan berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Angka indeks kualitas udara (AQI) sempat tercatat menembus 158, sementara kadar PM2,5 disebut mencapai 55,7 mikrogram per meter kubik. Kategori tidak sehat menandakan kualitas udara berpotensi merugikan, terutama bagi kelompok sensitif.

Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, menjelaskan kondisi kurang sehat paling sering terpantau pada dini hari hingga pagi menjelang siang. Pada pengamatan Sabtu, 3 Oktober 2026, kondisi itu bahkan masih terdeteksi hingga sekitar pukul 11.00 WITA sebelum membaik pada tengah hari. Kondisi serupa terpantau dalam beberapa hari terakhir dengan pola waktu yang relatif sama.

Pengamatan kualitas udara dilakukan di Maros, namun hasilnya mencakup wilayah sekitarnya, termasuk Makassar. Asriani menyebut pihaknya terus memantau perkembangan karena kualitas udara dapat berubah mengikuti kondisi angin dan sebaran partikulat di atmosfer. Data itu menjadi acuan dalam menyusun informasi bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Berdasarkan analisis sebaran asap dan arah angin, terdapat kemungkinan partikulat asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dari wilayah lain terbawa masuk ke Sulawesi Selatan. Saat ini angin di wilayah Sulsel dominan bertiup dari arah timur, tetapi data Automatic Weather Station (AWS) mencatat pula embusan dari arah barat yang membuka peluang partikel asap dari Kalimantan masuk. Dinamika arah angin menjadi faktor penentu seberapa besar konsentrasi polutan yang masuk ke Sulawesi Selatan.

Asriani menyatakan sumber asap mayoritas berasal dari kebakaran hutan yang terlihat pada peta sebaran, dengan pusatnya berada di Kalimantan. Karena titik panas di Kalimantan masih tinggi, kondisi serupa berpotensi berlanjut beberapa hari ke depan, bergantung pada perubahan arah angin. Pihaknya mengimbau masyarakat mengikuti pembaruan informasi cuaca dan kualitas udara secara berkala.

Paparan partikulat berukuran sangat kecil itu berdampak pada kesehatan pernapasan. Polutan PM2,5 dapat memicu gangguan saluran napas seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, hingga memperbesar risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Sejumlah pemantauan menyebut udara yang memburuk setara dengan menghirup sekitar 2,5 batang rokok per hari. Kelompok rentan dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan saat udara memburuk.

Masyarakat diminta mewaspadai kondisi ini, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, memakai masker, serta menjaga asupan air menjadi langkah sederhana yang dianjurkan. Kondisi udara diperkirakan berangsur membaik ketika angin kembali dominan membawa udara bersih ke wilayah Sulawesi Selatan, sehingga aktivitas warga di luar ruangan dapat kembali normal.

Sumber: Fajar.co.id