KolomData.id – Jakarta – Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA resmi merilis hasil survei mengenai tanggapan masyarakat terhadap wacana Pilkada melalui DPRD. Dari survei yang dilakukan, mereka menemukan 84% Generasi Z (Gen Z) menyatakan tidak setuju jika Pilkada dikembalikan ke DPRD. “Dari kategori kelompok usia, Gen Z yang paling tinggi menolak. 84% dari mereka tidak setuju,” ungkap peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, Rabu (07/01/2026).
Menurut Ardian, dari 16 persen lainnya, 15,4% sangat setuju atau cukup setuju, dan 0,6% sisanya tidak tahu atau tidak menjawab. Artinya, hampir seluruh responden dari kelompok usia Gen Z yang memiliki sikap tegas menolak mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Gen Z sendiri merupakan generasi yang lahir dan tumbuh pada era keterbukaan informasi digital, sehingga isu demokrasi langsung menjadi salah satu topik yang dekat dengan mereka.
Selain Gen Z, kelompok milenial juga sebagian besar menyatakan tidak setuju kalau Pilkada kembali dipilih DPRD. Jumlahnya sebesar 71,4%. Selanjutnya 19,4% sepakat dan 9,2% memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu. Tingginya penolakan di dua kelompok usia produktif ini menunjukkan bahwa mayoritas pemilih muda menolak pengembalian mekanisme Pilkada ke DPRD.
Untuk kalangan tua atau kelompok baby boomers, 37,4% sepakat, 60% menolak, dan 2,5% tidak tahu atau tidak menjawab. Meski tingkat penolakan pada kelompok ini lebih rendah dibanding Gen Z dan milenial, mayoritas baby boomers tetap menolak wacana tersebut. Perbedaan proporsi penolakan antar kelompok usia memperlihatkan adanya jarak pandangan antara generasi muda dan generasi tua dalam menyikapi mekanisme Pilkada.
Survei ini menyoroti sikap publik terhadap wacana mengembalikan Pilkada ke DPRD, yang sempat mencuat dalam diskursus politik nasional. Pilkada sendiri merupakan pemilihan kepala daerah yang selama ini dijalankan secara langsung oleh rakyat. Wacana pengembalian ke DPRD berarti kepala daerah dipilih oleh anggota legislatif, bukan melalui pemungutan suara langsung.
LSI Denny JA sebagai lembaga yang merilis survei ini menempatkan penolakan Gen Z sebagai temuan utama. Ardian Sopa menyampaikan data tersebut secara terbuka, termasuk rincian persentase dari setiap kelompok usia. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai metode, jumlah responden, atau periode survei dalam rilis yang disampaikan.
Hasil survei ini menjadi gambaran awal bagaimana publik, khususnya pemilih muda, memandang wacana perubahan mekanisme Pilkada. Dengan 84% Gen Z dan 71,4% milenial menolak, isu ini berpotensi menjadi perhatian partai politik maupun penyelenggara pemilu. Data lengkap survei masih menunggu penjelasan resmi dari LSI Denny JA. (*)

Tinggalkan Balasan