Kota Makassar akhirnya memberikan kepastian soal nasib stadion kebanggaan yang lama dinanti publik. Setelah melalui berbagai rangkaian pembahasan teknis, proyek ambisius di kawasan Untia, Kecamatan Biringkanaya, dijamin akan memasuki tahap konstruksi pada tahun ini juga. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa pembangunan sarana olahraga berstandar internasional itu menjadi prioritas utama pemerintahannya, bukan sekadar wacana belaka.
Munafri mengungkapkan, di setiap kesempatan bertemu warga, pertanyaan yang paling sering dilontarkan adalah mengenai kapan kota ini memiliki stadion megah. Ia selalu menjawab dengan optimisme, menyatakan proses pembangunan akan segera dimulai. Niat kuat ini disampaikan langsung dalam sebuah rapat koordinasi dengan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) di Balai Kota Makassar pada Senin, 25 Agustus 2025, membahas skema pembiayaan yang memungkinkan untuk merealisasikan mimpi besar tersebut.
Pemerintah kota tidak menutup diri terhadap berbagai opsi pendanaan. Apabila memungkinkan untuk didanai menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, maka proyek tersebut akan dikerjakan secara mandiri. Namun, apabila diperlukan suntikan dana dari pihak ketiga, pemkot membuka lebar pintu kolaborasi dengan investor. Ketertarikan investor sebenarnya sudah terlihat, terutama karena akses menuju lokasi stadion di Untia dinilai sangat strategis dan mudah dijangkau transportasi umum. Hal itu dianggap sebagai nilai tambah yang signifikan dari sisi infrastruktur pendukung.
Secara paralel, upaya penguatan tata kelola ruang terus dilakukan agar semua pembangunan sesuai aturan. Sebagai langkah lanjutan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, pemkot telah menerbitkan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) untuk kegiatan non berusaha, yang menjadi payung hukum bagi proyek stadion ini. Dokumen tersebut juga berfungsi sebagai pedoman agar seluruh aktivitas pembangunan tetap tertib, berkelanjutan, dan bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak.
Kebutuhan akan stadion ini sesungguhnya sudah sangat mendesak, terutama bagi klub kebanggaan warga, PSM Makassar. Selama bertahun-tahun, tim yang telah malang melintang di kompetisi Asia Tenggara hingga Asia itu selalu kesulitan karena tidak memiliki kandang sendiri yang layak. Klub terpaksa harus menyewa stadion di luar kota, entah itu di Pulau Jawa maupun Kalimantan. Padahal, antusiasme dan atmosfer sepak bola di Makassar luar biasa besarnya. Lebih dari itu, Munafri menilai sepak bola adalah gerbang masuk bagi sektor pariwisata dan perputaran ekonomi masyarakat.
Dia memberikan ilustrasi sederhana, andai tim nasional Indonesia berlaga melawan Vietnam di Makassar, siaran langsung pertandingan tersebut akan menjangkau jutaan pasang mata di berbagai negara. Publik global akan mulai bertanya-tanya tentang keberadaan kota ini, apa saja yang bisa dinikmati di sini, dan bagaimana cara mengunjunginya. Eksposur semacam ini dianggap sebagai keuntungan yang tak ternilai yang bisa didapat dari dunia olahraga.
Dengan segala pertimbangan yang ada, proyek Stadion Untia merupakan amanat pembangunan yang wajib segera dituntaskan. Optimisme tinggi disematkan oleh Munafri, dengan target pembangunan yang diharapkan rampung dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Baginya, stadion ini bukanlah proyek fisik semata, melainkan sebuah ikon baru yang akan memperkuat identitas Makassar di mata dunia internasional.
Dukungan nyata untuk proyek strategis ini pun terus mengalir. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan, menyatakan komitmennya untuk mendampingi pemerintah kota melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Deputi Direktur Bisnis PT PII, Pratomo Ismujatmika, menyebutkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan pemkot, tidak hanya untuk pembangunan stadion, tetapi juga untuk pengadaan penerangan jalan umum di sejumlah wilayah yang masih minim cahaya.
Pratomo menekankan bahwa dukungan penuh akan diberikan untuk program prioritas wali kota. Selain stadion, isu penerangan jalan juga menjadi perhatian serius karena berhubungan langsung dengan aspek keamanan dan kenyamanan masyarakat. Rencananya, pembangunan stadion akan melibatkan investasi swasta dan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas olahraga saja, melainkan dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang dilengkapi dengan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), pusat hiburan, dan ruang untuk menggerakkan ekonomi baru bagi warga.
Investor nantinya akan diberi keleluasaan untuk mengelola kawasan tersebut, sehingga stadion bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah dan roda penggerak ekonomi kota. Sebelum proyek dilelangkan kepada investor, serangkaian kajian teknis wajib dilakukan, termasuk studi kelayakan atau feasibility study serta penguatan kapasitas internal pemerintah daerah. Hal ini krusial untuk memastikan proyek memiliki daya tarik di mata pasar.
Sebagai lembaga penjaminan, PT PII akan mengambil peran untuk meng-cover berbagai risiko yang mungkin timbul selama masa kerja sama. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi investor, terutama untuk kontrak jangka panjang yang bisa mencapai tujuh tahun atau lebih. Dengan adanya jaminan tersebut, investor dipastikan akan mendapat kepastian hukum dan finansial, sehingga kerja sama dapat berjalan mulus dan memberikan manfaat optimal bagi semua pihak.

Tinggalkan Balasan