Kolomdata.id — Sekolah menjadi ruang strategis pendidikan kepemiluan bagi pemilih pemula. Menjadikannya sebagai titik episentrum konsolidasi demokrasi, dianggap cukup efektif meningkatkan pengetahuan kepemiluan.

 

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Luwu Timur memanfaatkan ruang ini untuk bersosialisasi tentang prinsip-prinsip dasar demokrasi yang sehat. Termasuk mengajak dan membentuk karakter pemilih pemula bermental baja. Tak mudah dibeli.

 

Ketua Bawaslu Luwu Timur Pawennari menekankan bahwa generasi Z memiliki posisi strategis dalam pemilu. Karena itu, Bawaslu berharap pemilih pemula tidak hanya menolak politik uang, tetapi juga memahami prinsip-prinsip dasar demokrasi yang sehat.

 

Melalui kegiatan ini lanjutnya, sekolah dipandang bukan sekadar tempat belajar formal, tetapi juga menjadi episentrum penguatan nilai-nilai demokrasi, pengawasan partisipatif, dan pendidikan politik sejak dini bagi pemilih pemula menuju Pemilu 2029.

 

“Kehadiran Bawaslu hari ini dalam rangka mengajak kepada kita semua agar pada Pemilu 2029 nanti, generasi muda tidak terlibat dalam praktik politik uang, termasuk tidak mudah menerima iming-iming dalam bentuk apa pun,” ujarnya di hadapan puluhan siswa-siswi SMAN 2 Luwu Timur, Kecamatan Wotu, Selasa (28/4).

 

Kegiatan ini, turut dihadiri Kepala Sekretariat Bawaslu Luwu Timur, Lenny Thalib, beserta jajaran dan diterima langsung oleh Kepala SMAN 2 Luwu Timur, Rahmat Ilahi. Puluhan pelajar mengikuti kegiatan dengan antusias dan terlibat aktif dalam kegiatan ini.

 

Sebelumnya, kegiatan serupa dilakukan di SMAN 7 Luwu Timur. Dalam sosialisasi tersebut, Pawennari juga menyampaikan beberapa prinsip dasar yang penting dipahami oleh pemilih pemula. Diantaranya; menolak politik uang, tidak menghalangi orang lain menggunakan hak pilih, serta menghormati kebebasan setiap orang dalam menentukan pilihan.

 

Menurut pria kelahiran Wotu itu, perbedaan pilihan dalam pemilu adalah hal yang wajar dan tidak seharusnya menimbulkan permusuhan. “Dalam pemilu, tidak dibenarkan juga orang bermusuhan hanya karena berbeda pilihan,” tegasnya.

 

Ia juga mengingatkan, peran pelajar tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi penyambung pesan demokrasi di lingkungan keluarga.

 

“Sampaikan kepada orang tua, saudara, dan orang-orang terdekat, bahwa politik uang jangan pernah dianggap biasa, karena praktik tersebut dapat berdampak buruk terhadap kualitas kepemimpinan yang lahir dari proses demokrasi,” tutupnya. (*)