Kolomdata.id — Lombok Utara – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di jalur pendakian Gunung Rinjani, tepatnya di Bukit Setampol, Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, masih menyala hingga Sabtu (26/9/2026). Luas kawasan yang terdampak terus bertambah dan tercatat sementara mencapai 723,7 hektare. Angka luas terdampak itu masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pemadaman yang belum tuntas.
Data itu disampaikan Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin. Menurutnya, api pertama kali muncul pada Selasa (22/9) sekitar pukul 18.50 Wita dan hingga kini belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Dari total 723,7 hektare yang terdampak, sekitar 74,161 hektare dilaporkan sudah berhasil dipadamkan, sedangkan sisanya masih membakar vegetasi di lokasi kejadian.
Kobaran api bergerak dari Bukit Setampol menuju kawasan Puncak Sangkareang dan areal sekitarnya yang masih masuk wilayah Resor Torean, Taman Nasional Gunung Rinjani. Gunung Rinjani sendiri merupakan salah satu tujuan pendakian utama di NTB, dan jalur Torean menjadi salah satu rute yang biasa dilalui pendaki menuju puncak. Titik-titik api berada di area dengan akses terbatas sehingga penanganan dilakukan bertahap agar api tidak meluas ke zona lain di kawasan konservasi tersebut.
Pemadaman menghadapi kendala berat. Angin kencang di lokasi membuat api menyebar lebih cepat, sementara medan yang terjal menyulitkan personel gabungan menjangkau titik-titik api. Untuk penanganan, BPBD NTB berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Utara serta Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Kendala angin dan medan itu membuat proses pemadaman berlangsung lebih rumit dibandingkan kebakaran di areal yang lebih mudah dijangkau, sehingga upaya pemadaman pun dilakukan bertahap.
Sedikitnya delapan unsur personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman, mencakup TNGR, Manggala Agni, TNI, Polri, Polisi Hutan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta porter. Sampai saat ini penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan, sehingga belum dapat dipastikan apakah insiden itu dipicu faktor alam atau aktivitas manusia.
Sejumlah unsur yang terlibat memiliki peran berbeda. Manggala Agni merupakan brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dibentuk pemerintah, sedangkan Masyarakat Peduli Api adalah kelompok warga yang dibentuk untuk membantu pencegahan dan penanganan kebakaran di wilayahnya. Keterlibatan porter juga dibutuhkan karena mereka paling memahami jalur dan kondisi medan di kawasan pendakian.
BPBD mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla, terutama pada musim kemarau. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan memastikan api benar-benar padam setelah beraktivitas. Mereka yang menemukan titik api diminta segera melapor kepada aparat desa, petugas pemadam, BPBD, atau instansi terkait. Selama penyelidikan belum tuntas dan api belum padam, kawasan Resor Torean masih berstatus rawan bagi pendaki maupun pengunjung.
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan