
KolomData.id – Gowa – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax mengganggu aktivitas warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Warga terpaksa berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain, sebagian bahkan menunggu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar. Antrean kendaraan pun mengular hingga ke badan jalan.
Menelusuri persoalan itu, Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polresta Gowa memantau enam SPBU di Kecamatan Somba Opu. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab kelangkaan yang dikeluhkan warga. Dari hasil pemantauan tersebut, polisi memperoleh keterangan bahwa ada SPBU yang mengajukan permintaan BBM hingga 16 kiloliter (KL), namun pasokan yang diterima hanya sekitar separuhnya, yakni 8 KL. Artinya, pasokan yang dipangkas mencapai sekitar 50 persen dari permintaan yang diajukan.
Selain pasokan yang dipangkas, polisi menduga aksi panic buying atau pembelian berlebihan turut mempercepat habisnya stok di sejumlah SPBU. Panic buying adalah perilaku membeli barang secara berlebihan karena khawatir barang tersebut akan habis. Dua faktor itu disebut menjadi pemicu antrean yang mengular hingga ke badan jalan. Warga yang datang untuk membeli BBM akhirnya harus menunggu lebih lama karena stok yang tersedia cepat terserap.
Kelangkaan ini tidak hanya berdampak pada lamanya waktu tunggu. Warga yang berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain turut mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra. Sebagian dari mereka bahkan menunggu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar. Aktivitas harian pun terganggu karena BBM merupakan kebutuhan utama untuk transportasi dan mobilitas.
Persoalan serupa juga dirasakan sejumlah daerah lain di Sulsel. Kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax dengan pola yang mirip menunjukkan bahwa masalah ini tidak berdiri sendiri di Gowa. Daerah-daerah lain di provinsi yang sama menghadapi kondisi serupa, sehingga dampaknya lebih luas bagi warga di wilayah tersebut.
Menyikapi kondisi itu, warga berharap Pertamina dan pemerintah daerah segera menambah pasokan serta mengawasi distribusi agar BBM bersubsidi tepat sasaran. Harapan ini muncul karena kelangkaan telah mengganggu aktivitas sehari-hari dan memaksa warga mengantre panjang. Pengawasan distribusi dinilai penting agar pasokan yang ada tidak salah sasaran.
Hingga kini, pemantauan polisi terhadap enam SPBU di Kecamatan Somba Opu menjadi salah satu langkah untuk mengurai persoalan. Temuan soal pemangkasan pasokan hingga sekitar 50 persen dan dugaan panic buying menjadi bahan keterangan awal. Persoalan kelangkaan BBM di Gowa dan sejumlah daerah di Sulsel masih menunggu penanganan lanjutan dari pihak terkait.
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan