Suasana rapat di ruang Badan Anggaran (Banggar) DPRD Luwu Timur (Lutim) pada Selasa, 19 Agustus 2025, berubah memanas dan diwarnai aksi saling lempar tuduhan. Insiden ini bermula dari perbedaan pandangan yang tajam antara dua fraksi, yang akhirnya memicu emosi seorang wakil rakyat hingga melampiaskannya dengan membanting gelas kopi ke lantai. Peristiwa tersebut menimbulkan kegaduhan dan nyaris berujung pada perkelahian fisik antaranggota dewan.
Badawi Alwi, politikus dari Fraksi Golkar yang menjadi aktor dalam insiden tersebut, membantah keras bahwa keributan ini diarahkan kepada Kepala Puskesmas (Kapus). Ia menegaskan bahwa konflik murni terjadi antaranggota legislatif, bukan dengan pihak eksekutif ataupun tenaga kesehatan yang hadir dalam forum tersebut.
Menurut penuturannya, akar permasalahan bermula dari pembahasan mengenai retribusi daerah yang sudah tidak lagi dipungut oleh Puskesmas. Kebijakan tersebut diambil sebagai tindak lanjut dari instruksi Bupati yang hendak menggratiskan layanan kesehatan. Situasi ini dinilai berpotensi menimbulkan masalah hukum di kemudian hari.
Fraksi Golkar, melalui Badawi, mendesak agar Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur tentang retribusi segera direvisi. Pasalnya, target pendapatan dari sektor ini mencapai angka puluhan juta rupiah. Kekhawatiran utamanya adalah jika aturan tidak segera diperbarui, maka hal tersebut dapat menjadi temuan pemeriksa keuangan.
Sebelum regulasi baru disahkan, Badawi berpandangan bahwa pemungutan tarif retribusi harus tetap diberlakukan sesuai aturan yang ada. Namun, sikap ini mendapat perlawanan dari Muh Iwan, anggota DPRD Lutim dari Fraksi NasDem, yang memiliki pendapat berbeda. Perbedaan sikap inilah yang kemudian menjadi pemicu ketegangan.
Badawi mengaku tersinggung dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Muh Iwan dalam rapat tersebut. Ia merasa seolah-olah dirinya dan Fraksi Golkar dituding tengah menekan atau menyerang pihak Puskesmas. Padahal, menurutnya, institusi DPRD adalah lembaga yang sarat akan nilai-nilai politis, dan perdebatan yang terjadi hanyalah bagian dari dinamika politik antaranggota dewan.
Lantaran emosi tidak dapat terbendung, Badawi pun melemparkan gelas kopi yang berada di depannya ke lantai. Suara benturan keras terdengar hingga dua atau tiga kali, mengagetkan seluruh peserta rapat yang hadir. Aksi tersebut sontak mengubah suasana diskusi menjadi kisruh, namun beruntung tidak sampai terjadi kontak fisik yang lebih serius.

Tinggalkan Balasan