Di sela-sela aktivitas penyedotan yang masih berlangsung hingga Sabtu malam, warga Desa Lioka, Kecamatan Towuti, menyaksikan langsung bagaimana tim PT Vale Indonesia berjibaku membendung meluasnya tumpahan minyak yang mengancam area hilir sungai. Hingga pukul 18.49 WITA, para pekerja masih bertahan di lokasi untuk memastikan kontaminasi tidak menjalar lebih jauh ke irigasi dan lahan persawahan milik warga.
Arroyos, seorang warga Lioka yang memantau proses penanganan tersebut, mengungkapkan bahwa ada tiga titik penghisapan minyak yang difokuskan oleh perusahaan, baik di saluran irigasi maupun di badan sungai. Menurut keterangannya, minyak yang berhasil disedot kemudian dialirkan ke dalam drum, sebelum akhirnya dipindahkan ke tangki penampungan. Karena kontur tanah di sekitar lokasi cukup miring, lanjut Arroyos, pihak perusahaan terpaksa membuat kolam penampungan sementara dari terpal. Dari penampungan darurat itulah minyak dipindahkan secara bertahap ke drum dan kemudian ke tangki.
Arroyos juga menyampaikan bahwa sumber kebocoran sebenarnya sudah terdeteksi, namun pipa yang mengalami kerusakan belum bisa terlihat secara langsung karena masih tertutup atau berada di posisi yang sulit dijangkau. Untuk saat ini, PT Vale masih memprioritaskan upaya pengendalian tumpahan agar tidak menyebar lebih luas. Meski mengapresiasi respons cepat perusahaan, ia menekankan pentingnya keterbukaan informasi. Ia berharap investigasi penyebab kebocoran tidak dilakukan sendirian oleh PT Vale, melainkan melibatkan pihak lain seperti pemerintah dan elemen masyarakat. Menurutnya, warga yang menjadi korban dampak lingkungan berhak mengetahui apakah kejadian ini murni akibat faktor alam, terkait kondisi bencana, atau ada sebab lain yang perlu dijelaskan secara transparan.

Tinggalkan Balasan