
Kolomdata.id, Makassar — Keterbatasan fasilitas belajar masih menjadi keluhan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM), mulai dari pendingin ruangan yang tidak berfungsi optimal hingga peralatan laboratorium yang rusak dan belum diganti.
Persoalan tersebut menjadi catatan penting bagi para kandidat rektor UNM periode mendatang. Di tengah tahapan pemilihan rektor yang sedang berlangsung, kondisi fasilitas pembelajaran di kampus perlu menjadi perhatian agar calon pemimpin universitas dapat melihat langsung kebutuhan mahasiswa di lapangan.
Keluhan ini disampaikan mahasiswa FT UNM yang menjalani perkuliahan di kampus Parangtambung. Persoalan fasilitas tersebut juga menjadi gambaran kondisi pembelajaran yang perlu ditinjau lebih jauh di fakultas lain di kawasan yang sama, yakni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), serta Fakultas Seni dan Desain (FSD).
Rahmat, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan angkatan 2023, mengatakan fasilitas pendingin ruangan di sejumlah kelas belum memadai. Menurutnya, AC yang tidak berfungsi dengan baik membuat kenyamanan mahasiswa selama mengikuti perkuliahan terganggu.
“Banyak ruang kelas yang fasilitasnya kurang bagus. Misalnya AC. Tidak semua ruang kelas mahasiswa bagus AC-nya. Bahkan lebih banyak yang rusak dibanding yang bagus,” kata Rahmat, pada Senin (12/10/2026).
Ia menjelaskan, persoalan AC tidak hanya menyangkut perangkat yang benar-benar rusak. Ada pula pendingin ruangan yang masih menyala, tetapi tidak mampu menghasilkan udara dingin sebagaimana mestinya.
“Sebetulnya yang sangat kami butuhkan sebagai mahasiswa teknis tentunya laboratorium. Sementara kondisinya sekarang, laboratorium kami ini masih banyak kurangnya. Memang, beberapa sudah di-upgrade, tapi banyak juga yang alat-alat lama,” ujarnya.
Menurut Rahmat, pembaruan fasilitas laboratorium belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mahasiswa. Sejumlah peralatan yang rusak masih belum diganti, padahal keberadaannya penting untuk menunjang kegiatan praktikum dan penyelesaian tugas perkuliahan.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa berupaya mencari alternatif agar kegiatan praktik tetap berjalan. Salah satunya dengan membeli sendiri peralatan serupa, meskipun dengan kemampuan dan kualitas yang terbatas.
“Begitu juga alat-alat laboratorium yang rusak, masih banyak sampai sekarang yang belum diganti. Sementara alat itu sangat penting untuk kita sebagai mahasiswa. Nah, makanya kita mahasiswa, supaya tetap bisa kerjakan tugas dari dosen atau melakukan praktik di laboratorium, kadang beli peralatan yang serupa. Tapi pasti bukan peralatan yang mahal, dan seadanya. Asal ada dipakai untuk praktik,” tuturnya.
Keluhan lain datang dari Indah, mahasiswi Jurusan Teknik Informatika dan Komputer angkatan 2024. Ia mengungkapkan, keterbatasan ruang kelas membuat mahasiswa jurusannya terkadang harus mengikuti perkuliahan di ruang milik jurusan lain.
Menurutnya, penggunaan ruang kelas secara bergantian menjadi salah satu cara agar perkuliahan tetap berlangsung di tengah banyaknya mahasiswa.
“Kita sering sekali kuliah di ruang kelasnya jurusan lain. Yaa itu, karena memang banyak mahasiswanya dari jurusanku,” kata Indah.
Namun, persoalan menjadi lebih sulit ketika tidak tersedia ruang kelas yang dapat digunakan. Dalam kondisi tersebut, perkuliahan terpaksa dialihkan secara daring agar mahasiswa tetap bisa mengikuti proses pembelajaran.
“Supaya semuanya tetap bisa kuliah, dosen kadang pindah ruangan dari jurusan lain. Tapi kalau tidak ada ruangan kelas sama sekali, mau tidak mau harus online lagi. Dari pada kita tidak kuliah,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan