Kasus kekerasan berdarah yang menimpa mahasiswa Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo hingga nyaris merenggut nyawa korban memunculkan pertanyaan besar tentang ketegasan aparat penegak hukum. Meski identitas para penyerang telah diserahkan kepada pihak berwajib, tidak ada tanda-tanda langkah hukum yang berarti hingga saat ini. Yusril, salah satu korban yang selamat dari momen mengerikan tersebut, mengungkapkan kekecewaannya karena laporan yang telah ia berikan seolah ditelan bumi oleh penyidik Polres Palopo.

Peristiwa nahas itu terjadi di tengah malam buta, tepatnya pada Kamis, 22 Mei 2025, saat Himpunan Mahasiswa Pertambangan tengah menggelar Musyawarah Besar (Mubes) di dalam area kampus. Sekitar pukul 00.01 WITA, suasana diskusi berubah tegang ketika dua orang mahasiswa bernama Raya dan Pokki terlibat perselisihan cukup sengit. Keduanya sempat keluar dari ruangan dengan niat untuk beradu fisik, namun Yusril bersama rekan-rekannya berhasil melerai. Pertikaian itu pada akhirnya dapat diredam, tetapi ketenangan hanya berlangsung sesaat.

Kejadian berubah menjadi mimpi buruk ketika Pokki tiba-tiba menghilang dari lokasi Mubes. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 01.00 WITA, pintu gerbang kampus Unanda Palopo dikepung oleh sekelompok massa bersenjatakan parang. Para mahasiswa yang masih berada di dalam gedung langsung panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka memilih melarikan diri melewati gerbang belakang kampus yang mengarah ke Jalan Tribina, Kelurahan Benteng, Kecamatan Wara, Kota Palopo. Namun, pelarian mereka terhenti karena di titik itulah gerombolan lain sudah menunggu. Kampus dikepung dari dua arah, membuat ruang gerak para mahasiswa benar-benar tertutup.

Yusril menuturkan bahwa ia bersama beberapa temannya berusaha kabur, tetapi ia menjadi sasaran pengejaran menggunakan sepeda motor. Ia berhasil ditangkap, lalu dipukuli tanpa ampun, diseret masuk kembali ke area kampus, dan terus dihajar oleh massa. Ia mengaku berhenti menjadi target setelah teman yang mereka cari berhasil ditangkap. Keadaan semakin buas karena rekan Yusril tersebut ikut dihajar dalam kondisi rentan. Aksi kekerasan tersebut baru berhenti ketika mobil patroli polisi tiba di lokasi, dan para pelaku langsung melarikan diri. Yusril menyebut bahwa polisi inilah yang kemudian membawanya ke Rumah Sakit Buana Palopo untuk mendapatkan perawatan intensif.

Gempuran fisik yang dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal sebagai warga Akamsi, Benteng, itu membuat Yusril sempat berada dalam kondisi kritis di rumah sakit. Ia bahkan harus menjalani perawatan serius sebelum akhirnya berangsur pulih. Meski nyawanya berhasil diselamatkan, trauma mendalam masih membekas di benak Yusril. Ketakutan terbesarnya adalah kenyataan bahwa para pelaku masih bebas berkeliaran tanpa tersentuh hukum. Ia bersama teman-temannya mendesak kepolisian untuk segera menangkap seluruh pelaku karena bukti dan identitas mereka sudah jelas, termasuk nama dan foto yang telah diserahkan ke Polres Palopo.

Sampai dengan berita ini ditulis, proses penyelidikan di Polres Palopo masih berjalan. Surat permintaan visum dari penyidik memang sudah masuk ke RS Buana Palopo untuk kepentingan medis dan hukum. Namun, upaya konfirmasi kepada Kapolres Palopo, AKBP Dedi Surya Dharma, belum membuahkan hasil. Pesan singkat yang dikirimkan kepada yang bersangkutan tidak pernah direspons. Lambannya respons aparat ini semakin menguatkan keresahan para korban yang merasa keadilan tidak kunjung datang.