Kota Makassar akhirnya memiliki moda transportasi laut yang akrab disebut pete-pete laut, sebuah terobosan baru yang dirancang untuk menjawab kebutuhan konektivitas warga kepulauan dengan pusat kota. Kehadiran layanan ini menjadi penanda bahwa pembangunan tidak lagi berpusat pada wilayah daratan, melainkan telah merambah hingga ke pulau-pulau terluar yang selama ini kerap terabaikan. Lebih dari sekadar pemenuhan janji politik, inisiatif ini merupakan bukti konkret peran negara dalam membuka akses layanan publik, ekonomi, pendidikan, serta sosial bagi masyarakat yang bermukim di gugusan pulau sekitar Makassar.

Jusman, selaku Kepala Bidang Angkutan Umum dan Prasarana Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar, mengungkapkan bahwa pengoperasian pete-pete laut ini akan digratiskan bagi seluruh penumpang. Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari strategi percepatan pembangunan di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menjadi prioritas pemerintah daerah. Adapun trayek yang bakal dilayani mencakup sejumlah pulau berpenghuni, seperti Pulau Lae-lae, Pulau Barrang Caddi, dan Pulau Barrang Lompo, yang kemudian diperluas hingga mencakup empat pulau terluar lainnya, yaitu Pulau Langkai, Pulau Lanjukkang, Pulau Lumu-Lumu, dan Pulau Bone Tambu.

Program ini disebut-sebut sebagai agenda utama Wali Kota Makassar yang dinilai memiliki dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat kepulauan. Jusman menegaskan bahwa kapal yang akan dioperasikan telah disiapkan dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ini juga. Saat ini, Dishub Makassar telah mengamankan satu unit kapal kayu bernama KM Banawa Nusantara 27 yang memiliki kapasitas angkut sekitar 20 sampai 25 penumpang dalam sekali perjalanan. Kesiapan armada ini menjadi modal awal yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan transportasi warga pulau yang selama ini sangat bergantung pada jasa perahu tradisional.

Untuk tahap permulaan, trip perdana direncanakan menyusuri jalur dari Pelabuhan Kayu Bangkoa menuju Pulau Lae-lae, lalu berlanjut ke Pulau Kodingareng, kemudian singgah di Pulau Barrang Caddi dan Pulau Barrang Lompo, sebelum akhirnya kembali lagi ke Makassar. Rute awal ini sengaja dipilih karena jarak tempuhnya relatif pendek dan masih sesuai dengan kapasitas kapal yang tersedia. Menurut Jusman, trip pertama ini akan dijadikan fokus uji coba awal, dengan rencana operasional harian yang akan dievaluasi secara berkala. Ia menambahkan bahwa rute ini diharapkan dapat berjalan setiap hari agar mobilitas warga pulau semakin lancar dan terjangkau.

Sementara itu, untuk trip kedua, pemerintah menyiapkan jangkauan lintasan yang lebih jauh, yakni dimulai dari Pulau Barrang Lompo menuju Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, Pulau Lanjukkang, hingga mencapai Pulau Bone Tambu, sebelum pada akhirnya berbalik arah menuju Barrang Lompo dan kembali ke Makassar. Namun, karena keterbatasan kapasitas kapal yang ada, untuk sementara waktu fokus utama tetap diarahkan pada pengoperasian track pertama sebagai uji coba. Mengenai jadwal serta jam operasional, Jusman mengaku masih dalam tahap kajian mendalam, tetapi yang pasti kapal sudah siap dan tinggal menunggu izin resmi untuk segera meluncur melayani masyarakat.