Kualitas perlengkapan yang diterima para anggota Paskibraka Merah Putih Kabupaten Luwu Timur tahun 2025 memicu keprihatinan mendalam. Pasalnya, sepatu olahraga bermerek Hoka yang dibagikan kepada mereka diketahui bukan produk asli, melainkan tiruan yang harganya tidak sampai Rp300 ribu. Insiden ini terungkap setelah salah satu sepatu tersebut sobek dan rusak saat dipakai untuk menjalani latihan rutin.
Kepala Kesbangpol Lutim, Guntur Hafid, membenarkan bahwa pengadaan sepatu tersebut dilakukan melalui pihak ketiga yang memenangkan tender di e-katalog. Nilai satu pasang sepatu itu hanya Rp270 ribu, sebuah angka yang jauh di bawah harga pasar sepatu Hoka original yang diproduksi di Prancis. Untuk produk asli dengan kualitas premium, banderolnya selalu di atas Rp2 juta per pasang. Perbedaan harga yang sangat mencolok ini menjadi indikasi kuat bahwa barang yang diberikan kepada para siswa tersebut adalah palsu.
Menanggapi peristiwa sobeknya sepatu milik salah satu anggota pasukan, Guntur Hafid tidak membantah kebenaran kejadian itu. Ia menyampaikan bahwa sepatu yang rusak tersebut tidak diganti dengan yang baru. Anggota Paskibraka yang bersangkutan justru memperbaikinya sendiri dengan cara dijahit dan dilem. Setelah diperbaiki, sepatu itu kembali dipakai untuk latihan keesokan harinya dan dinyatakan sudah tidak ada kendala lagi oleh pemiliknya.
Sikap pantang menyerah dan semangat juang para anggota Paskibraka patut mendapatkan penghormatan tinggi. Meskipun perlengkapan yang mereka terima jauh dari kata layak, mereka tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Seharusnya negara dan pemerintah daerah bisa memberikan yang terbaik untuk mereka, terlebih acara pengibaran bendera hanya diselenggarakan sekali dalam setahun. Memberikan fasilitas yang berkualitas tentu tidak akan merugikan anggaran negara, justru akan menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air.
Peristiwa ini menjadi ironi tersendiri karena Kabupaten Luwu Timur merupakan salah satu daerah dengan APBD terbesar di Sulawesi Selatan, yang mencapai angka Rp2,1 triliun lebih. Kekayaan daerah yang melimpah ini ternyata tidak sejalan dengan perhatian pemerintah setempat terhadap kebutuhan para pejuang merah putih. Di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam dan Puspawati Husler, pengadaan barang untuk pasukan Paskibraka justru diisi dengan produk tiruan yang kualitasnya sangat rendah. Kejadian ini tentu meninggalkan kepedihan yang mendalam, terutama ketika melihat daerah sekaya ini memperlakukan para generasi penerus bangsanya dengan cara yang sangat tidak layak.

Tinggalkan Balasan