KolomData.id – Jakarta – Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara. Penilaian itu disampaikannya di tengah tekanan yang masih membayangi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Menurut Assuaibi, pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal setelah pergantian tersebut, sehingga sentiment terhadap mata uang nasional belum sepenuhnya pulih.
Dalam pandangan Assuaibi, rupiah bergerak melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS. Rentang tersebut menjadi gambaran bahwa tekanan jual terhadap rupiah masih berlangsung. Assuaibi menilai pelemahan itu tidak berdiri sendiri, karena faktor internal berupa pergantian pejabat fiskal berpadu dengan tekanan dari luar.
Selain faktor internal, tekanan terhadap rupiah disebut turut dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan. Dua faktor itu memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan, termasuk terhadap nilai tukar. Ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman, sementara kenaikan harga minyak mentah menambah beban bagi negara yang masih mengimpor energi.
Pergantian posisi Menteri Keuangan membuat pasar menahan diri. Pasar memilih menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal sebelum mengambil posisi yang lebih besar. Sikap menahan diri itu tercermin dari pergerakan rupiah yang bertahan di rentang melemah, bukan menguat, meski belum ada keputusan fiskal baru yang diumumkan.
Sejumlah analis menilai Suahasil Nazara memiliki pengalaman panjang di Kementerian Keuangan sehingga diharapkan dapat menjaga kesinambungan kebijakan fiskal. Pengalaman tersebut dipandang penting agar pasar tidak perlu waktu lama menyesuaikan diri dengan kepemimpinan baru di kementerian yang mengelola anggaran negara. Harapan itu muncul karena kesinambungan kebijakan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai risiko.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena berdampak pada biaya impor, harga bahan baku, dan beban utang valuta asing. Ketika rupiah melemah, kebutuhan dolar untuk mengimpor barang menjadi lebih mahal, yang kemudian dapat merembet ke harga bahan baku di dalam negeri. Beban utang valuta asing juga ikut bertambah karena nilai pembayaran dalam rupiah menjadi lebih besar.
Sejumlah analis mengingatkan tantangan Menkeu baru tidak sekadar memilih kebijakan fiskal yang lebih ekspansif atau konservatif. Pilihan itu harus diambil dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang sedang menahan diri, tekanan eksternal dari harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik, serta dampak pelemahan rupiah terhadap biaya impor, harga bahan baku, dan beban utang valuta asing.
Sumber: Fajar.co.id

Tinggalkan Balasan