
Kolomdata.id — Jenewa, Swiss – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin membawa nama Indonesia ke panggung internasional melalui United Nations Forum of Mayors 2026 yang digelar di Jenewa, Swiss, 12-13 Oktober 2026. Dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia, Makassar tercatat sebagai satu-satunya daerah yang mendapat kesempatan berpartisipasi, bersama lebih dari 60 wali kota dari berbagai belahan dunia.
Dalam forum yang berlangsung di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, Munafri mengangkat isu pendidikan keselamatan dan disiplin berlalu lintas sejak usia sekolah. Menurutnya, keselamatan di jalan raya tidak cukup bertumpu pada penegakan aturan dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus ditopang edukasi yang membentuk budaya berlalu lintas sejak dini.
Gagasan itu ia sampaikan dengan menyinggung pernyataan utusan khusus PBB untuk keselamatan jalan, Jean Todt. Wali Kota yang akrab disapa Appi ini menyatakan sepakat bahwa pendidikan lalu lintas penting dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah agar siswa sadar dan memahami cara berkendara yang aman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia menilai pemahaman tersebut perlu ditanamkan jauh sebelum anak-anak berperan sebagai pengguna jalan yang mandiri.
Lebih jauh, Munafri menekankan pentingnya membekali generasi muda kemampuan mengenali risiko di jalan raya, menghindari gangguan saat berkendara, serta memahami batas kecepatan. Ia juga menyebut pilihan moda transportasi rendah karbon sebagai bagian dari upaya menyiapkan pengemudi masa depan yang lebih sadar lingkungan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.
Forum Wali Kota Dunia menjadi ruang bagi para pemimpin kota untuk bertukar pengalaman, membahas tantangan perkotaan, serta merumuskan pendekatan pembangunan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Salah satu sesi awal forum membahas mobilitas perkotaan, di mana pendidikan keselamatan lalu lintas ditempatkan sebagai fondasi terciptanya lalu lintas yang aman dan tertib.
Partisipasi Makassar di forum itu juga dinilai sebagai kesempatan menempatkan persoalan kota-kota di negara berkembang dalam percakapan global, mulai dari tata kelola transportasi hingga kebutuhan infrastruktur yang ramah bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua. Munafri memanfaatkan forum itu untuk menegaskan bahwa kebijakan mobilitas harus dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan kelompok paling rentan, terutama anak dan remaja. Isu yang diangkat Makassar sejalan dengan perhatian dunia terhadap tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan di jalan raya, dengan kelompok usia produktif dan anak-anak sebagai pihak yang paling terdampak. Karena itu, sejumlah kota menempatkan edukasi keselamatan jalan sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar program seremonial. Selain sesi mobilitas perkotaan, forum ini membahas beragam tantangan kota lain, mulai dari perubahan iklim, penyediaan perumahan, hingga pelayanan dasar bagi warga. Para wali kota yang hadir berbagi pengalaman tentang cara menerjemahkan komitmen global, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, menjadi kebijakan yang bisa dirasakan langsung di tingkat kelurahan dan lingkungan permukiman.
Forum dua hari tersebut menjadi penanda keterlibatan Makassar dalam jaringan kota dunia yang tengah mendorong target keselamatan jalan global. Pemerintah kota berharap gagasan yang dibawa dari Jenewa dapat diterjemahkan menjadi kebijakan lokal, termasuk edukasi keselamatan berlalu lintas yang menyasar sekolah-sekolah di ibu kota Sulawesi Selatan.
Sumber: Harian Fajar

Tinggalkan Balasan