Kebakaran hebat yang melanda Sorowako pada Rabu (27/08/25) akhirnya berhasil dijinakkan, dan rumah milik Wakil Ketua I DPRD Luwu Timur, Jihadin Peruge, dinyatakan selamat dari amukan si jago merah. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam karena puluhan rumah warga lainnya ludes dilalap api, namun sang politisi yang akrab disapa Lau Jiha itu mengaku bersyukur rumahnya masih berdiri kokoh meski jarak aman sangat tipis.

Menurut keterangan yang dihimpun, kobaran api yang mulai berkobar sekitar pukul 14.00 WITA itu hanya berjarak dua rumah dari kediaman Jihadin Peruge. Bahkan, petugas pemadam kebakaran harus berjibaku melawan bara api yang merambat cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Tersisa satu rumah lagi sebelum api mencapai bangunan baru yang tengah didirikan oleh Jihadin Peruge, yang letaknya bersebelahan langsung dengan rumah pribadinya. Beruntung, sekitar pukul 15.45 WITA, pasukan pemadam akhirnya berhasil memadamkan seluruh titik api di Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Saat musibah melanda, Jihadin Peruge sedang berada di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ia mengaku tak bisa berbuat banyak selain memanjatkan doa ketika menerima kabar duka tersebut. Keinginannya untuk langsung pulang ke Sorowako sempat terhambat karena tiket penerbangan baru tersedia keesokan harinya, Kamis (28/08/25). Ketidakberdayaan itu membuatnya gelisah, namun ia tetap berusaha tenang dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam pernyataannya, Lau Jiha menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada seluruh warga yang menjadi korban kebakaran, termasuk keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ia berharap semua pihak yang tertimpa musibah senantiasa diberikan ketabahan serta kekuatan lahir dan batin. Ia juga menitipkan pesan agar semua orang senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, dan berharap perjalanannya kembali ke Sorowako pada keesokan harinya berlangsung aman dan selamat.

Di tengah rasa syukur karena rumahnya selamat, Jihadin Peruge mengaku hatinya tidak tenang memikirkan nasib puluhan warga yang menjadi korban. Ia menyebut bahwa lingkungan sekitarnya banyak dihuni oleh keluarga dan sahabat, sehingga duka yang dirasakan terasa begitu dekat. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harta benda tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatan jiwa manusia, dan ia berharap para korban segera pulih serta mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

Jihadin Peruge juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga setempat serta petugas pemadam kebakaran yang telah berupaya maksimal. Ia menilai mereka adalah pahlawan yang rela bertaruh nyawa demi memadamkan api sebelum merenggut korban lebih banyak. Tanpa keberanian dan kerja keras mereka, kemungkinan besar rumah yang ia bangun bersama keluarganya juga akan ikut menjadi abu dalam peristiwa naas tersebut.