Fenomena bonsai memang tak pernah sepi peminat, bahkan di Kabupaten Luwu Timur, tanaman kerdil ini punya tempat tersendiri di hati para kolektornya. Bayangkan, di negeri Sakura, sebatang bonsai pinus berusia sepuluh abad laku terjual dengan banderol menakjubkan, Rp 18 miliar. Ternyata, potensi serupa juga bersemi di daerah yang dipimpin oleh Bupati Irwan Bachri Syam ini, di mana para penggemarnya rela meluangkan waktu bertahun-tahun demi menghasilkan karya hidup yang artistik.

Arman Amrullah, seorang guru otomotif di SMKN 1 Malili yang kesehariannya mengajar teknik pengelasan, mengakui bahwa merawat bonsai bukanlah pekerjaan sembarangan. Ia menekankan bahwa dibutuhkan perlakuan istimewa dan keahlian khusus yang tidak bisa dipelajari secara instan, karena prosesnya memakan waktu yang tidak sebentar. Ketekunan yang dimilikinya di luar jam mengajar ini ternyata membuahkan hasil, karena tanaman asuhannya kerap masuk nominasi bonsai terbaik dalam berbagai ajang pameran, termasuk hingga ke Kota Makassar.

Dalam perhelatan pameran yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-22 Kabupaten Luwu Timur, ratusan tanaman kerdil berjajar rapi di atas meja, memanjakan mata para pengunjung yang antusias mengelilingi area pameran. Meski hanya bisa menikmati dari kejauhan karena ada larangan menyentuh, pengunjung tetap bisa mengagumi keindahan batang dan dedaunan yang dirawat dengan sangat teliti oleh para pemiliknya. Momen ini juga menjadi ajang edukasi, di mana Arman dengan sabar mendampingi dan memberikan penjelasan kepada para pengunjung perempuan yang ingin tahu lebih dalam tentang dunia bonsai.

Dedikasi Arman terhadap komunitas pecinta bonsai sudah berlangsung belasan tahun, tepatnya sejak era kepemimpinan Bupati Thoriq Husler periode 2015-2019, dan komunitas ini tetap eksis hingga periode kepemimpinan Bupati Irwan Bachri Syam. Keaktifannya di komunitas ini mengantarkannya pada pengetahuan mendalam tentang spesies-spesies langka, salah satunya adalah Bonsai Cucur Atap yang ia yakini sebagai pohon endemik asli Luwu Timur. Ia memaparkan bahwa bahan bonsai dari pohon yang juga dikenal dengan nama sapu-sapu ini berkelas internasional dan sangat diburu para kolektor karena harganya bisa menembus angka ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Perlu diketahui, istilah bonsai sendiri diserap dari bahasa Jepang yang terdiri dari kata “bon” yang berarti pot dan “sai” yang berarti menanam. Seni ini lahir dari upaya para seniman untuk mengekspresikan keindahan alam melalui teknik pemotongan yang cermat dan penuh kesabaran. Bagi para pecintanya seperti Arman, memiliki bonsai bukan sekadar soal nilai estetika atau harga yang melangit, melainkan juga tentang ketenangan jiwa dan kepuasan batin karena berhasil menciptakan sebuah mahakarya hidup yang memancarkan keindahan abadi di setiap sudut rumah.