KolomData.id – Maros – Bupati Maros, Andi Syafril Chaidir Syam, urung terbang ke Jakarta pada Minggu (6/9/2026) pagi. Penerbangan yang hendak ia tumpangi dibatalkan setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembatalan itu membuat agenda kunjungannya ke ibu kota harus ditunda, dan ia memilih mengambil pengembalian dana tiket ketimbang menunggu jadwal pengganti.

Chaidir baru mengetahui pembatalan penerbangannya setelah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ia sudah berada di bandara sejak pukul 04.00 Wita, sekitar dua jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat Batik Air pukul 06.20 Wita yang akhirnya tidak jadi berangkat. Artinya, ia menunggu di bandara tanpa kepastian hingga kabar pembatalan itu diterimanya di lokasi.

Sebelum bertolak dari Maros, Chaidir sempat melihat kabar erupsi Gunung Anak Krakatau yang ramai beredar di media sosial. Meski demikian, ia tetap melanjutkan rencana keberangkatan karena mengira penerbangan masih berjalan normal. Penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang diberitakan kemudian menjadi penyebab langsung pembatalan yang membuatnya tidak bisa berangkat.

Atas pembatalan tersebut, maskapai memberikan dua pilihan kepada penumpang, yakni pengembalian dana tiket atau pemindahan jadwal penerbangan. Chaidir memilih opsi pengembalian dana karena belum ada kepastian soal jadwal pengganti. Nilai tiket yang dikembalikan kepadanya sekitar Rp2,1 juta.

Kunjungan Chaidir ke Jakarta sejatinya untuk memenuhi undangan terkait hasil revalidasi Geopark Maros-Pangkep. Rangkaian kegiatan itu dijadwalkan dimulai dengan registrasi peserta pada Minggu (6/9/2026), dan acara utamanya berlangsung keesokan harinya, Senin (7/9/2026). Dengan batalnya penerbangan, tahapan awal agenda tersebut tidak bisa ia ikuti sesuai rencana.

Belum ada keterangan lebih lanjut dari Chaidir maupun pihak terkait mengenai langkah yang akan diambil untuk menyusul rangkaian kegiatan tersebut. Pilihan refund yang diambilnya menegaskan bahwa ia belum mendapat kepastian jadwal pengganti dari maskapai. Sementara itu, penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersifat sementara dan berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana gangguan penerbangan akibat erupsi gunung berapi bisa berdampak langsung pada agenda pejabat daerah. Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung berapi yang berada di perairan Selat Sunda, dan letusannya kerap memicu penutupan sementara ruang udara maupun bandara di sekitarnya. Bagi Chaidir, dampak itu terasa dalam bentuk batalnya keberangkatan dan tiket senilai Rp2,1 juta yang akhirnya dikembalikan.

Sumber: Harian Fajar