Proyek pembangunan fasilitas penggilingan beras modern senilai lebih dari Rp 3 triliun di Kabupaten Luwu Timur tengah memasuki tahap akhir penentuan titik lokasi. Dari sejumlah alternatif yang tersedia, dua lokasi menjadi kandidat terkuat, sementara satu opsi lainnya dipastikan gugur. Investasi sebesar itu direncanakan untuk membangun pabrik dengan kapasitas produksi yang bertahap, dimulai dari 100 ton gabah per hari, dengan target ekspor beras premium ke pasar internasional.
Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Muchtar, mengungkapkan bahwa pendampingan teknis masih terus dilakukan untuk memastikan titik pembangunan yang paling tepat. Menurutnya, kawasan industri dan wilayah Margolembo menjadi dua opsi yang paling memungkinkan. Keputusan final akan segera diajukan kepada Bupati untuk mendapatkan persetujuan resmi. “Tinggal ditentukan mana yang disetujui pimpinan, dan ini harus segera,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Kerja sama pembangunan ini telah memasuki babak baru setelah penandatanganan kesepakatan antara pemerintah daerah dan investor, CV. Menata Citra Selaras (MCS), yang bertindak sebagai pihak ketiga penanam modal. Meski perjanjian telah diteken, penentuan lokasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat sebelumnya telah mengajukan tiga alternatif lahan, mencakup kebun hortikultura milik dinas, area Margolembo di Mangkutana, serta kawasan industri yang berada di Desa Pasi-pasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Amrullah Rasyid, menjelaskan bahwa kebutuhan lahan untuk pabrik ini mencapai sekitar 20 hektare. Sementara itu, lahan kebun hortikultura yang tersedia hanya seluas 10 hektare. Meskipun ada tambahan lahan 14 hektare di lokasi tersebut, namun kondisinya terpisah-pisah sehingga dinilai kurang efektif. “Kemungkinan besar pabrik akan dibangun di Margolembo atau kawasan industri,” ungkap Amrullah dalam keterangannya melalui sambungan telepon WhatsApp pada Rabu (21/05/25).
Dari dua kandidat yang ada, kawasan industri dinilai memiliki keunggulan strategis karena berdekatan dengan pelabuhan Waru-Waru. Kedekatan ini diproyeksikan mampu menekan biaya logistik dan transportasi secara signifikan. “Lokasi ini lebih menguntungkan dari sisi efisiensi angkut, namun keputusan akhir tetap akan melihat berbagai pertimbangan. Bisa saja nantinya jatuh ke Margolembo,” jelas Amrullah.
Produk yang akan dihasilkan dari pabrik ini adalah beras dengan kualitas premium yang seluruhnya ditujukan untuk pasar ekspor. Dengan kapasitas awal 100 ton gabah per hari, pabrik ini nantinya berpotensi ditingkatkan hingga 500 ton per hari. Apabila pabrik berkapasitas besar tersebut terealisasi, maka pasokan gabah tidak hanya akan diserap dari Luwu Timur, tetapi juga berpotensi menarik hasil panen dari Kabupaten Luwu Utara. Amrullah menambahkan, kehadiran pabrik ini tidak akan mengganggu keberadaan 16 Perpadi yang telah beroperasi, karena orientasi produksinya memang berbeda, yakni untuk pasar luar negeri.
Investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai angka fantastis, lebih dari Rp 3 triliun. Muchtar menegaskan bahwa investor sebenarnya memiliki kapasitas untuk langsung membangun pabrik berkapasitas 500 ton per hari. Namun, pengembangan tersebut harus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku di lapangan. “Investor sanggup, tapi harus menyesuaikan dengan pasokan gabah yang ada,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan