Perjalanan panjang seorang perempuan di tengah kerasnya dunia sepak bola nasional akhirnya melahirkan capaian bersejarah. Andi Widya Warsa Syadzwina, yang akrab disapa Wina, kini tercatat sebagai doktor pertama di Indonesia untuk bidang ilmu komunikasi sepak bola. Gelar tersebut ia peroleh dari Universitas Hasanuddin melalui disertasinya yang berjudul “Komunikasi dan Olahraga: Studi Manajemen Komunikasi Liga Sepakbola Indonesia di Era Digital”. Pencapaian ini bukan sekadar gelar akademik, melainkan buah dari pengalaman puluhan tahun yang ia tekuni di berbagai lini industri sepak bola Tanah Air.

Sepak bola, menurut Wina, bukanlah sekadar pertandingan. Ia adalah panggung komunikasi sekaligus instrumen diplomasi lunak yang sangat berpengaruh. Sayangnya, minat peneliti terhadap dimensi komunikasi dalam olahraga masih sangat minim. Padahal, riset semacam ini sangat krusial untuk memajukan sepak bola Indonesia. Ia mencontohkan tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 sebagai bukti nyata lemahnya koordinasi dan buruknya komunikasi krisis antara panitia penyelenggara dan petugas keamanan. Berdasarkan laporan Tim Kedokteran Polisi, peristiwa tersebut merenggut 135 korban jiwa dan melukai lebih dari 500 orang, meskipun Wina menyebut data dari temuannya sendiri menunjukkan angka 250 korban jiwa.

Ketertarikan Wina terhadap sepak bola bukan datang tiba-tiba. Pria dan wanita di sekitarnya mungkin melihatnya sebagai profesi yang tak biasa, namun ia telah membuktikan diri melalui karier panjang di PSM Makassar. Klub tertua di Indonesia itu memberinya kesempatan untuk mengemban banyak peran: media officer, sekretaris tim, hingga manajer tim. Di tengah dominasi laki-laki dalam industri ini, ia pernah menjadi satu-satunya media officer perempuan. Tugas tersebut tidaklah ringan, tetapi ia berhasil menjalaninya dengan baik dan penuh dedikasi.

Kiprahnya tak berhenti di level klub. Di tingkat federasi, Wina terlibat sebagai pengurus Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI). Ia pun turut berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan Piala Dunia U17 yang digelar di Jakarta. Sebelum mendalami sepak bola, pengalamannya di dunia komunikasi sudah matang. Ia pernah bekerja sebagai public relation di sejumlah korporasi nasional berskala besar, seperti GMTD dan GTC. Kombinasi antara keahlian komunikasi korporat dan pengalaman luas di sepak bola inilah yang kemudian ia satukan, diteliti, dikaji, dan diwujudkan menjadi disertasi yang memberinya gelar doktor.

Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi riset Wina. Pertama, komunikasi kini menjadi elemen vital dalam industri olahraga Indonesia, terutama sepak bola yang tengah bergerak menuju era digital. Kedua, sepak bola harus dipandang sebagai peristiwa komunikatif yang berdimensi sosial dan diplomatik. Ketiga, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola sangat tinggi, namun prestasi tim nasional belum sebanding dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, atau negara-negara Asia Barat lainnya. Oleh karena itu, disertasi ini menyoroti tata kelola liga dari sudut pandang manajemen komunikasi, dengan harapan bisa meningkatkan daya saing sepak bola nasional.

Wina menegaskan bahwa suporter adalah nyawa dari sepak bola. Tanpa mereka, pertandingan terasa hampa dan semangat para pemain ikut pudar. Dukungan dari tribun merupakan energi yang tak ternilai bagi setiap pesepakbola. Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat pahit bahwa komunikasi yang gagal dapat berujung pada bencana besar. Ia berharap risetnya mampu membuka mata para pemangku kepentingan bahwa manajemen komunikasi yang baik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga keselamatan, ketertiban, dan masa depan sepak bola Indonesia yang lebih cerah.