Dipercaya memiliki peluang yang sangat besar untuk merebut posisi pemenang pemilu dari Nasdem di Sulawesi Selatan, PDIP kini tengah bergerilya dengan menyusun struktur kepemimpinan anyar. Tujuh sosok populer telah dipanggil ke DPP untuk mengikuti uji kelayakan, dan langkah ini dinilai sebagai fondasi awal untuk menumbangkan dominasi partai berlambang matahari tersebut.
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Ali Armunanto, menilai bahwa peluang PDIP untuk menggeser Nasdem bukanlah isapan jempol belaka. Ia menekankan bahwa persatuan di antara tujuh kandidat yang dipanggil tersebut bisa menjadi senjata ampuh. Modal besar juga datang dari status PDIP sebagai partai pemenang di level nasional, yang dapat dimaksimalkan untuk mendulang suara di daerah. Ia menambahkan bahwa tantangan utama adalah karena PDIP tidak memegang kekuasaan eksekutif, namun potensi yang ada bisa dioptimalkan untuk mengatasi hal tersebut.
Proses fit and proper test terhadap tujuh nama tersebut telah digelar di DPP PDIP sehari sebelumnya. Mereka yang diuji adalah Ketua DPD saat ini, Andi Ridwa Wittiri, mantan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto, Sekretaris DPD Rudy Pieter Goni, serta Ketua Bidang Pertimbangan Partai Ansyari Mangkona. Selain itu, turut dipanggil Bendahara DPD Alimuddin, Ketua Bappilu DPD Risfayanti Muin, dan anggota DPRD Luwu, Andi Admiral. Seluruh nama dinilai memiliki modal kuat, baik dari segi popularitas, elektabilitas, finansial, maupun soliditas kerja serta basis pemilih loyal di berbagai daerah.
Apabila kepemimpinan partai dipercayakan kepada Danny Pomanto, ia dianggap mampu menjadi motor penggerak. Rekam jejaknya dalam Pilgub Sulsel lalu membuktikan daya tariknya di Bantaeng, Tana Toraja, dan Toraja Utara, wilayah yang menjadi lahan subur untuk menggarap suara. Danny menyatakan kesiapannya untuk bekerja keras dan mengabdi penuh kepada partai dalam posisi apa pun yang diberikan, karena ia menganggap dirinya kader yang wajib patuh pada perintah DPP. Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal keseriusannya untuk bertarung di kontestasi mendatang, bukan hanya demi kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membesarkan PDIP.
Dengan kemampuan memimpin yang dimilikinya, Danny dinilai layak untuk diusung maju dalam Pilgub Sulsel. Ali Armunanto menambahkan bahwa Danny bukanlah sosok baru di panggung politik dan memiliki pengalaman serta strategi yang mumpuni. Ia juga menyoroti bahwa pemisahan jadwal Pemilu nasional dan daerah membuat peran Danny sangat krusial untuk melakukan pemeliharaan dukungan di lapangan. Kemampuannya untuk menjangkau suara dari kalangan atas hingga akar rumput menjadi nilai jual yang tidak dimiliki semua kader.
Kesimpulannya, pergeseran kekuasaan dari Nasdem ke PDIP di Sulsel sangat mungkin terjadi pada kontestasi mendatang. Syaratnya, partai berlambang banteng tersebut harus jeli dalam memanfaatkan peluang dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki. Dengan strategi yang tepat dan solidnya para kandidat, bukan hal yang mustahil untuk mewujudkan ambisi tersebut dan mengubah peta politik di provinsi ini.

Tinggalkan Balasan