Kolomdata.id — Makale – Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mengerahkan alat berat untuk membersihkan sedimen yang menumpuk di dasar Sungai Surame. Sungai yang membelah kawasan Kota Makale itu tengah dalam kondisi kering sehingga pengerukan material dasar alur dapat dilakukan lebih leluasa. Pembersihan dimulai Jumat, 2 Oktober 2026, dan hingga Selasa, 6 Oktober 2026, prosesnya masih berlangsung.

Pembersihan difokuskan pada pengangkatan sedimentasi yang mengendap dan menghambat laju air. Endapan itu membuat penampang sungai menyempit sehingga aliran tidak lancar ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Dari lokasi di bawah jembatan pintu keluar Pasar Sentral Makale, Jalan Tondon Mamullu, Kelurahan Bombongan, Kecamatan Makale, petugas terlihat mengangkat lumpur dan material yang menumpuk di dasar sungai.

Sungai Surame memiliki panjang sekitar 3,3 kilometer dan berbatasan langsung dengan Sungai Sa’dan, sungai terbesar di Sulawesi Selatan. Dalam program daerah, pemerintah juga menormalisasi Sungai Aka yang berada di kawasan Kota Makale. Keduanya merupakan saluran terbuka yang menjadi bagian dari penataan drainase perkotaan di ibu kota Kabupaten Tana Toraja.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Tana Toraja, Yulieanti Sarah Mapaliey, menegaskan normalisasi dua sungai tersebut merupakan bagian dari program pemerintah daerah. Ia menyatakan jika kemudian ada tim pemantau yang berkunjung, hal itu terjadi karena kebetulan. Menurut dia, ada atau tidak ada penilaian, program normalisasi tetap dilaksanakan untuk membersihkan aliran sungai dan mengantisipasi musim hujan agar banjir dapat dicegah.

Pemda Tana Toraja memang menggenjot program kebersihan melalui tagline Tana Toraja Masero. Untuk 2026, penilaian Adipura di daerah itu menetapkan 11 lokus dan titik pemantauan, salah satunya saluran terbuka dengan titik pengamatan Sungai Surame dan Sungai Aka. Mengacu jadwal Kementerian Lingkungan Hidup, pemantauan lapangan berlangsung Oktober hingga Desember 2026, tahap penilaian awal dan verifikasi pada Januari sampai Maret 2027, finalisasi hasil pada April 2027, sedangkan penghargaan Adipura dijadwalkan Juni 2027.

Kawasan yang kini dinormalisasi bukan wilayah baru bagi persoalan banjir. Pada Februari 2025, banjir bandang melanda Tana Toraja dan Toraja Utara setelah hujan lebat mengguyur lebih dari lima jam sehingga debit air Sungai Sa’dan meningkat drastis. Laporan Pusdalops BPBD Tana Toraja ketika itu menyebut luapan Sungai Porte dan Sungai Surame menggenangi sejumlah titik, termasuk Pasar Makale serta Kelurahan Bombongan dan Kelurahan Ariang di Kecamatan Makale, sehingga aktivitas pasar lumpuh dan akses kendaraan terputus.

Normalisasi dikerjakan dengan dua unit alat berat. Material yang diangkat dari dasar sungai disebut akan memperlancar aliran air sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya banjir saat hujan. Pekerjaan itu tidak hanya memperbaiki kapasitas tampung alur, tetapi juga mengembalikan fungsi sungai sebagai saluran pembuangan air kota yang melintasi kawasan pasar dan permukiman padat di Kota Makale.

Pemerintah kabupaten memastikan pekerjaan berlanjut sampai seluruh ruas yang menjadi sasaran selesai ditangani. Selain mengeruk sedimen, pembersihan sampah dan material penghambat aliran menjadi bagian dari penataan kawasan bantaran sungai. Warga berharap normalisasi rampung sebelum curah hujan meningkat agar luapan air tidak lagi menggenangi kawasan Pasar Sentral Makale dan jalan-jalan di sekitarnya.

Sumber: Harian Fajar