Prosesi pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Forum Bela Negara (FBN) Sulawesi Selatan untuk masa bakti 2025-2030 berlangsung khidmat di Arsjad Rasjid Lecture Theater Unhas pada Jumat (10/10/2025). Momen ini bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak awal bagi kiprah organisasi dalam menanamkan semangat kebangsaan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Ketua Umum FBN RI, Prof Zainal Abidin, dalam sambutannya setelah melantik jajaran pengurus menyampaikan bahwa amanat yang diemban bukanlah perkara ringan. Ia menegaskan bahwa seluruh pengurus yang baru dilantik harus berperan sebagai penggerak utama dalam menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air di daerah masing-masing. Menurutnya, momentum ini menjadi fondasi untuk mengabdi secara nyata kepada publik, terutama dalam menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan sampai ke daerah terpencil. Ia juga mengapresiasi kehadiran sejumlah tokoh bela negara dari DKI Jakarta sebagai wujud nyata dukungan serta penghormatan terhadap sakralnya rangkaian acara tersebut.
Andi Sutomo, yang kini memegang amanah sebagai Ketua DPW FBN Sulsel, mengungkapkan rasa terima kasih dan kebulatannya untuk menjadikan pelantikan ini sebagai titik tolak perjuangan. Ia menyatakan bahwa seluruh jajarannya berkomitmen membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam menginternalisasi semangat bela negara, khususnya bagi kelompok muda. Baginya, ini adalah langkah konkret yang akan diwujudkan bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam aksi nyata di tengah masyarakat.
Sementara itu, Pangdam XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal TNI Totok Imam Santoso, menekankan bahwa esensi bela negara sangat krusial sebagai penopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menjelaskan bahwa wujud cinta tanah air tidak harus selalu dimaknai dengan angkat senjata. Implementasinya justru sangat sederhana, yakni dengan menghilangkan sekat antara aparat dan rakyat. Ia mencontohkan, ketika warga menderita kelaparan maka aparat harus berani merasakan lapar yang sama; ketika rakyat dilanda banjir maka aparat harus rela basah. Dengan cara demikian, rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh subur, yang pada gilirannya memperkuat fondasi kebangsaan.

Tinggalkan Balasan