
Kolomdata.id – Riyadh – Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh mengakibatkan 12 orang meninggal dunia dan 309 lainnya mengalami luka-luka. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi pada Sabtu menyatakan bahwa aktivitas di bandara tersebut dihentikan sementara sebagai buntut dari insiden mematikan itu. Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi menuduh kelompok Houthi asal Yaman berada di balik serangan pada Sabtu tersebut, sementara pihak Houthi sendiri belum mengaku bertanggung jawab atas aksi terbaru terhadap ibu kota Kerajaan Saudi itu.
Juru bicara pasukan koalisi, Turki al-Maliki, melalui unggahan di platform X mengumumkan bahwa pihaknya berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak di wilayah timur Arab Saudi. Dari rekaman pelacakan penerbangan, tidak ada satu pun pesawat yang tiba di Riyadh sejak beberapa saat setelah pukul 03.00 waktu setempat pada Minggu atau 00.00 GMT. Situs pemantau penerbangan FlightRadar24 mencatat hampir seluruh jadwal kedatangan di Riyadh pada hari Minggu dibatalkan. Aktivitas udara di bandara utama Saudi itu praktis lumpuh pasca-serangan.
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan terkait serangan yang menewaskan belasan orang tersebut. Ia menyebut peristiwa itu sebagai hal yang mengerikan. Trump menilai Arab Saudi merupakan pihak yang tangguh dalam menghadapi serangan, namun ia tetap menyatakan bahwa serangan terhadap Bandara King Khalid adalah perbuatan yang sangat keji. Trump juga mengungkapkan bahwa ia akan mempertimbangkan kemungkinan untuk turut serta bersama Arab Saudi dalam melancarkan serangan balasan terhadap Houthi. Selain itu, ia berencana menghubungi Perdana Menteri sekaligus Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengecam dugaan serangan Houthi terhadap Riyadh tersebut dengan menyebutnya sebagai kejahatan perang yang nyata. Pernyataan keras itu disampaikan pihak koalisi menyusul jatuhnya korban sipil yang cukup banyak dalam insiden di bandara internasional tersebut. Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari kelompok Houthi yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru ke Riyadh.
Dari sisi Yaman, Rashad al-Alimi, ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi, menyampaikan rasa belasungkawa serta solidaritas kepada Kerajaan Saudi melalui unggahan di akun X miliknya. Menurutnya, serangan kriminal tersebut mencerminkan watak teroris yang menjadi dasar perilaku milisi tersebut, sekaligus menunjukkan sikap nekat mereka yang mengabaikan nyawa warga sipil dan kepentingan rakyat Yaman. Ia juga menyoroti bahwa Kerajaan Saudi terus menunjukkan sikap persaudaraan yang mulia dalam membantu perekonomian Yaman dan meringankan beban penderitaan warganya. Al-Alimi melanjutkan bahwa agresi terhadap Arab Saudi pada hakikatnya merupakan agresi terhadap keamanan, kepentingan, dan masa depan generasi mereka.
Lebih lanjut, Al-Alimi menegaskan bahwa tentara pemerintah Yaman bersama pasukan yang setia kepadanya akan terus melanjutkan operasi bertajuk Fajar Yaman atau Dawn of Yemen. Tujuan operasi itu adalah mengakhiri ancaman yang ditimbulkan Houthi dan memulihkan institusi negara, tanpa memedulikan besarnya pengorbanan yang mungkin harus ditanggung. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menghadapi kelompok bersenjata itu.
Sebagai konteks, kelompok bersenjata Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada tahun 2014 dan kemudian membentuk pemerintahan sendiri. Belakangan ini, mereka bergerak menyapu wilayah pesisir barat Yaman di kawasan Laut Merah dan Bab al-Mandeb. Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi babak baru ketegangan di kawasan tersebut, dengan Arab Saudi dan sekutunya semakin bersiaga menghadapi ancaman Houthi yang kian meluas.
Sumber: Katadata

Tinggalkan Balasan