KolomData.id – Jakarta – Fenomena Super El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada November hingga Desember 2026. Prediksi itu disampaikan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin. Ia menyebut intensitas Super El Nino kali ini berpotensi lebih kuat dibanding El Nino 2023. Peringatan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk mulai memperhitungkan dampak yang bisa muncul menjelang akhir tahun.

Erma menuturkan, sejumlah pemantauan menunjukkan kekuatan El Nino tahun ini masuk kategori super. Indikasinya, anomali suhu tercatat lebih tinggi dibanding El Nino 2023. Dari situ, dampaknya diperkirakan lebih terasa, terutama karena puncak fenomena terjadi pada November hingga Desember 2026, periode yang biasanya bersamaan dengan musim hujan di banyak wilayah.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena ini dapat bertahan hingga awal 2027. Artinya, puncak pada akhir 2026 tidak otomatis menutup rangkaian dampak. El Nino yang berkepanjangan membuat sejumlah sektor berisiko terdampak lebih lama, mulai dari pertanian, ketersediaan air, hingga kesehatan masyarakat.

Kondisi itu membuat pemerintah pusat dan daerah diimbau menyiapkan langkah mitigasi. Langkah tersebut mencakup pengelolaan air, antisipasi kekeringan, hingga kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Ketiga langkah itu saling terkait: pengelolaan air dan antisipasi kekeringan menentukan seberapa besar tekanan yang muncul saat curah hujan menurun, sementara kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan dibutuhkan untuk mencegah dampak lanjutan di wilayah yang mengering.

Masyarakat juga diminta mengambil peran. Mereka diimbau memantau informasi resmi dari lembaga yang berwenang dan menyesuaikan aktivitas, terutama di wilayah yang rawan kekeringan. Penyesuaian itu penting agar risiko pada sektor pertanian, ketersediaan air, dan kesehatan masyarakat tidak bertambah besar.

Imbauan itu merujuk pada prediksi Super El Nino yang bisa lebih kuat dari 2023 dan bertahan hingga awal 2027. Dengan puncak pada November-Desember 2026, rentang waktu yang tersedia sebenarnya masih ada, asalkan langkah mitigasi disiapkan dari sekarang. Sumber: Fajar.co.id

Sumber: Fajar.co.id