Nasib kurang beruntung tengah menimpa para pekerja kebersihan di Kabupaten Luwu Timur. Mereka mengambil sikap tegas dengan mengancam akan berhenti bekerja apabila tuntutan mereka kembali diabaikan. Aksi mogok ini merupakan puncak kekesalan setelah dua bulan lamanya hak lembur yang mereka perjuangkan tak kunjung diterima.

Kekhawatiran akan masa depan pekerjaannya membuat seorang petugas memilih untuk berbicara secara anonim. Ia mengaku takut melaporkan hal ini secara terang-terangan karena bisa berujung pada teguran hingga pemecatan. Kerja keras mereka selama perayaan pesta rakyat seolah sia-sia, sebab upah lembur yang dijanjikan sebesar Rp 50 ribu dan bahkan sempat disebut akan dinaikkan menjadi Rp 75 ribu, sampai saat ini tidak pernah direalisasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Setiap kali ditagih, mereka justru diabaikan.

Tidak hanya gagal dibayar, kabar yang lebih menyakitkan adalah rencana pemangkasan nilai lembur itu sendiri. Hal ini memicu kemarahan dan kekecewaan yang mendalam di kalangan petugas kebersihan. Mereka telah bersepakat bulat untuk melakukan mogok kerja sebagai bentuk protes terakhir jika pemangkasan tersebut benar-benar terjadi.

Keseharian para pekerja ini dimulai jauh sebelum matahari terbit. Mereka harus bangun lebih awal dari pegawai lainnya untuk menyapu dan merapikan seluruh penjuru area, terutama di fasilitas-fasilitas umum hingga melakukan aktivitas pemangkasan pohon. Tugas berat ini mereka pikul setiap hari demi menjaga lingkungan tetap sehat dan bersih bagi warga.

Dengan gaji bulanan yang hanya Rp 1,7 juta, para petugas kebersihan ini mengaku bingung untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski mereka mencoba bersyukur, keadaan mendesak membuat mereka harus mencari kerja sambilan tambahan di luar jam dinas demi menyambung hidup. Seorang petugas mengungkapkan bahwa ia masih memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan anak-anak yang menunggu biaya di rumah. Ia pun tak kuasa menahan haru saat menceritakan kondisi yang dialami rekan-rekannya tersebut.