KolomData.id – Makassar – Ratusan buruh dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus Kota Makassar mengepung Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi di Jalan Garuda, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Makassar, Senin (14/9/2026). Massa merangsek hingga ke area pintu utama kantor dan bertahan sampai malam. Halaman kantor dipadati pengunjuk rasa, sementara petugas kepolisian yang dibantu personel TNI membangun barikade guna mencegah massa masuk lebih jauh ke dalam gedung.

Aksi tersebut menuntut transparansi penanganan krisis BBM dan LPG 3 kilogram di Sulawesi Selatan. Dalam tuntutannya, demonstran mendesak Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Deny Sukendar, turun langsung menemui mereka. Massa menilai kehadiran pimpinan tertinggi Pertamina di wilayah Sulawesi menjadi syarat penting agar persoalan yang mereka angkat mendapat jawaban langsung dari pihak yang berwenang.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana yang berada di tengah kerumunan sempat menghubungi Deny melalui sambungan video call dan memperlihatkan layar ponselnya kepada massa. Upaya tersebut dilakukan sebagai jembatan komunikasi antara pengunjuk rasa dan pihak Pertamina yang diminta hadir. Meski begitu, cara itu belum memuaskan demonstran yang tetap menuntut Deny hadir secara langsung di lokasi.

Ketua HMI Cabang Makassar, Sarah Agussalim, menegaskan Pertamina Regional Sulawesi harus membuka data pasokan dan penyaluran BBM secara transparan karena masyarakat berhak mengetahui kondisi sebenarnya. Pernyataan itu disampaikan di tengah aksi yang berlangsung sejak siang hingga malam, menegaskan bahwa persoalan yang diangkat bukan sekadar soal kehadiran pejabat, melainkan soal keterbukaan informasi menyangkut kebutuhan publik.

Hingga pukul 19.00 WITA, massa masih bertahan di sekitar kantor. Orasi bergantian dilakukan dari dua mobil komando milik HMI Cabang Makassar serta HMI Cabang Gowa Raya. Kedua mobil komando tersebut menjadi pusat pengaturan massa dan penyampaian tuntutan selama aksi berlangsung, sementara barikade petugas tetap dijaga di depan pintu utama kantor Pertamina.

Aksi yang melibatkan buruh dan mahasiswa ini menunjukkan bahwa isu krisis BBM dan LPG 3 kilogram di Sulawesi Selatan telah menyatukan kelompok pekerja dan kelompok mahasiswa dalam satu aliansi. Aliansi Cipayung Plus Kota Makassar menjadi wadah bagi kedua elemen tersebut untuk menyuarakan tuntutan yang sama, yakni transparansi data pasokan dan penyaluran energi di wilayah itu.

Hingga berita ini disusun, massa masih bertahan di lokasi dan belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina Regional Sulawesi mengenai tuntutan demonstran. Situasi di sekitar kantor tetap dijaga aparat kepolisian dan TNI, sementara pengunjuk rasa terus menunggu apakah pihak yang mereka desak akan menemui mereka secara langsung.

Sumber: Fajar.co.id