Sebuah tragedi berdarah mengguncang warga Dusun Roroi, Desa Parumpanai, Kecamatan Wasuponda, pada Sabtu (31/05/25). Russen, seorang pria yang terlibat sengketa kepemilikan tanah, meregang nyawa setelah tubuhnya ditebas menggunakan parang hingga kedua lengannya putus. Peristiwa ini bukan hanya merenggut satu nyawa, tetapi juga melukai tiga orang lainnya yang saat itu berada di lokasi kejadian.

Pelaku yang diketahui bernama Baso telah diamankan aparat Kepolisian Resor Luwu Timur. Hingga saat ini, Baso tengah menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Luwu Timur. Pihak kepolisian sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini, meskipun pelaku sudah berada dalam tahanan.

Akar permasalahan yang memicu aksi brutal ini adalah konflik agraria yang berkepanjangan. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa tanah seluas 5 hektare yang dipersengketakan tersebut telah beberapa kali disidangkan di pengadilan. Dalam setiap putusan, kemenangan selalu berpihak kepada Baso. Namun, Russen sebagai penggugat merasa dirinya adalah pemilik sah dan tidak pernah menerima keputusan hukum tersebut.

Ketegangan memuncak pada hari kejadian. Rencana Russen untuk membongkar sebuah rumah yang berada di Dusun Roroi dan memindahkannya ke lokasi tanah yang disengketakan menjadi pemicu amarah Baso. Mendengar kabar tersebut, Baso bergegas menuju tempat kejadian dengan membawa senjata tajam. Sesampainya di sana, tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri Russen yang sedang memegang palu dan ditemani oleh beberapa rekannya.

Baso langsung mengayunkan parangnya ke arah lengan Russen tanpa peringatan sama sekali. Tebasan pertama berhasil memutus tangan korban, namun aksi biadab itu tidak berhenti sampai di situ. Baso terus melanjutkan tebasannya ke bagian tubuh lain dari korban. Beberapa rekan Russen yang berusaha memberikan pertolongan justru ikut menjadi sasaran amukan Baso, menderita luka sabetan yang cukup serius. Salah satu dari mereka bahkan mengalami luka di telapak tangan yang nyaris putus.

Sumber yang sama menambahkan bahwa Russen meninggal seketika di lokasi kejadian karena luka yang dideritanya terlalu parah. Sementara itu, tiga korban selamat lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit untuk memulihkan kondisi mereka. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam dan menjadi pengingat betapa konflik lahan yang tidak terselesaikan dapat berujung pada petaka kemanusiaan.