Perayaan ulang tahun kota yang ke-418 tahun ini dimaknai berbeda oleh jajaran pemerintahan di bawah kepemimpinan Munafri-Aliyah. Tema yang diusung adalah ajakan untuk kembali menyatukan seluruh elemen masyarakat setelah sekian lama terpolarisasi oleh perbedaan pilihan politik. Momen ini dianggap sebagai titik awal untuk merajut kembali kebersamaan yang sempat terkoyak, sebuah simbol bahwa kontestasi politik telah usai dan kini saatnya fokus pada pembangunan kota secara kolektif.

Wali kota terpilih itu mengungkapkan refleksinya tentang kompleksitas memimpin Makassar yang berstatus sebagai kota hub di kawasan timur Indonesia. Menurutnya, keragaman dan dinamika masyarakat yang tinggi menuntut perhatian serta akomodasi terhadap berbagai kepentingan yang berbeda-beda. Ia mengakui bahwa tantangan ini sangat menarik, karena harus mampu menyeimbangkan antara ketaatan pada aturan birokrasi yang ketat dengan tuntutan keadilan dalam melayani semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kepemimpinan di kota besar memerlukan harmoni antara kebijakan yang tepat, komunikasi yang efektif, dan tingkat empati yang tinggi terhadap warga. Ia menyadari bahwa tidak mungkin untuk memuaskan seluruh individu, namun target utamanya adalah memastikan bahwa mayoritas warga merasa mendapatkan pelayanan yang optimal. Hal ini dinilainya sebagai pekerjaan rumah yang besar, namun justru menjadi daya tarik tersendiri dalam menjalankan roda pemerintahan.

Disinggung mengenai filosofi di balik perayaan ulang tahun yang pertama sejak dirinya dilantik, ia menjelaskan bahwa proses pemilihan langsung yang diikuti oleh beberapa kandidat menjadi dasar dari semangat persatuan kali ini. Pesan yang ingin disampaikan sangat tegas, bahwa masa persaingan sudah berakhir dan tidak ada lagi sekat-sekat antara pendukung maupun tim sukses. Kota ini merupakan milik bersama yang harus dijaga dan dirawat oleh semua pihak tanpa terkecuali.

Ia bahkan mengundang secara terbuka mereka yang sebelumnya berada di kubu lawan untuk turut serta berkontribusi. Jika memiliki gagasan yang cemerlang untuk kemajuan daerah, pintu diskusi selalu terbuka lebar untuk semua orang. Seruan ini dilontarkan sebagai ajakan konkret untuk bergandengan tangan membangun Makassar, meninggalkan segala perbedaan yang ada di masa lampau demi tujuan yang lebih besar.

Dalam rangkaian perayaan HUT kota yang ke-418 ini, pemerintah kota memutuskan untuk menjadikan masyarakat sebagai pusat perhatian utama. Sebuah program bertajuk “100% Makassar” akan melibatkan warga dari beragam usia dan latar belakang untuk mengisi seluruh rangkaian acara. Pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator atau panitia penyelenggara, dengan harapan agar perayaan tersebut benar-benar menjadi milik dan cerminan dari warganya sendiri.

Prinsip ini didasari pada keyakinan bahwa pemerintahan yang baik tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri. Sudah menjadi kewajiban bagi penguasa untuk mendengarkan aspirasi dan kebutuhan rakyatnya, sehingga kehadiran negara dapat benar-benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, diharapkan tercipta pelayanan publik yang tidak hanya responsif, tetapi juga humanis dalam setiap interaksinya.