Kolomdata.id – Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memimpin langsung jalannya upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar pada tanggal 1 Oktober di kawasan Monumen Lubang Buaya, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting negara. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mendampingi Presiden Prabowo memasuki lapangan upacara beberapa saat sebelum pukul 08.00 WIB. Kehadiran mereka menandai dimulainya rangkaian prosesi kenegaraan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.
Dalam pelaksanaan upacara tersebut, sejumlah pejabat tinggi negara terlihat hadir di barisan peserta. Tampak di lokasi Panglima TNI, Agus Subiyanto, bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Selain itu, Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, juga turut serta. Tidak hanya dari jajaran eksekutif, hadir pula Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dan Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin. Kehadiran para pemimpin lembaga negara ini menunjukkan tingginya penghormatan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.
Struktur kepanitiaan upacara kali ini melibatkan sejumlah perwira menengah dari berbagai matra TNI. Komandan Upacara dipercayakan kepada Kolonel Mar TNI Edo Sidharta Halilintar. Posisi Cadangan Komandan Upacara diisi oleh Kolonel Pnb Sony Aji Pramono, sementara Perwira Upacara dijabat oleh Brigjen TNI Fitriana Nur Heru Wibawa. Penunjukan para perwira ini merupakan bagian dari protokol standar dalam peringatan hari besar nasional yang bertujuan untuk menegaskan disiplin dan kesiapan aparat negara.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila sendiri merupakan amanat dari Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967. Regulasi tersebut ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Sosok Soeharto, yang merupakan penguasa Orde Baru, baru-baru ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo pada 10 November 2025. Penetapan ini menjadi bagian dari dinamika sejarah panjang bangsa yang terus mengalami reinterpretasi terhadap peran tokoh-tokoh sentralnya.
Sejarah mencatat bahwa Hari Kesaktian Pancasila memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa tersebut menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia karena menelan korban jiwa dari kalangan perwira tinggi militer. Enam jenderal dan seorang perwira ABRI gugur dalam kejadian itu, dan mereka kemudian dikenang sebagai tujuh pahlawan revolusi. Tragedi ini tidak berhenti pada penculikan dan pembunuhan para perwira, tetapi diikuti oleh gelombang pembantaian terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang jumlahnya diperkirakan mencapai setengah juta orang.
Narasi mengenai kekejaman peristiwa G30S banyak dipengaruhi oleh film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Nugroho Notosusanto. Dalam film tersebut, kematian para perwira TNI digambarkan secara sadis, termasuk adegan penyiksaan sebelum korban dijebloskan ke Lubang Buaya. Film ini menggambarkan keterlibatan Gerwani, organisasi yang terafiliasi dengan PKI, dalam proses penyiksaan tersebut dengan suasana yang sangat kelam. Namun, versi sejarah ini menuai perdebatan dari kalangan akademisi, salah satunya adalah Indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat, Benedict Anderson.
Melalui tulisannya yang berjudul “How Did The Generals Die”, Benedict Anderson mengungkapkan temuan yang berbeda berdasarkan hasil autopsi para Pahlawan Revolusi. Jasad yang ditemukan di Lubang Buaya disebutkan tidak menunjukkan tanda-tanda penyiksaan sebagaimana yang divisualisasikan dalam film propaganda tersebut. Perbedaan interpretasi ini menunjukkan bahwa peristiwa sejarah besar seringkali memiliki lapisan kompleksitas yang tidak bisa direduksi hanya dari satu sudut pandang saja.
Dampak dari peristiwa G30S 1965 membawa perubahan besar pada tatanan politik nasional. Kejadian tersebut menjadi jalan bagi Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad, untuk mengambil alih kepemimpinan Indonesia. Kekuasaannya bertahan selama 32 tahun hingga akhirnya tumbang oleh gelombang Reformasi pada tahun 1998. Hingga kini, peringatan di Lubang Buaya tidak hanya berfungsi sebagai seremonial belaka, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen bangsa tentang pentingnya menjaga persatuan dan ideologi negara di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Sumber: CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan