Perbincangan hangat di grup-grup WhatsApp pada Selasa, 8 Juli 2025, diisi oleh sebuah surat terbuka yang menyoroti perilaku politik yang dinilai melupakan jasa orang lain. Surat yang ditujukan kepada Bupati Luwu Timur itu beredar luas dan ramai diperbincangkan warganet, meski identitas penulisnya masih misterius. Isinya mengkritik habis-habisan sikap seorang pemimpin yang dianggap lebih memilih singgasana ketimbang kesetiaan lama.

Melalui surat yang berjudul “Surat Cinta Untuk Pak Ibas” tersebut, publik diajak untuk merenungkan bagaimana kekuasaan mampu mengubah watak seseorang. Rangkaian kata demi kata dalam surat itu menggambarkan ironi di balik kursi empuk kekuasaan, tempat banyak orang berlomba untuk dekat, namun di sisi lain menyimpan luka bagi mereka yang setia di masa sulit. Ditegaskan bahwa ada ribuan pasang mata yang mengamati bagaimana kekuasaan bisa mentransformasi seseorang menjadi lupa daratan.

Kisah yang diangkat dalam surat tersebut berpusat pada sosok HM Siddiq BM, kader Partai NasDem yang disebut telah berjasa besar dalam perjalanan politik Bupati Luwu Timur, yang akrab disapa Pak Ibas. Siddiq BM digambarkan sebagai sosok awak kapal yang setia menjaga bahtera partai dari gempuran badai politik dan persaingan yang tak pernah reda. Dia adalah orang yang rela berjaga siang malam, menahan dingin dan lapar, serta tak segan memanggul beban demi memastikan kapal tidak karam. Pengorbanan itu dilakukan bertahun-tahun lamanya, bukan hanya dalam hitungan hari, hingga akhirnya kapal tersebut berhasil merapat di pelabuhan kemenangan.

Puncak dari pengorbanan itu adalah kemenangan dalam pemilihan Bupati. Pak Ibas berhasil menduduki kursi nomor satu di kabupaten tersebut, namanya dipuji-puji, dan foto-fotonya terpampang di berbagai penjuru daerah. Namun, euforia kemenangan itu berbanding terbalik dengan sikap yang kemudian diambil oleh Pak Ibas. Alih-alih berterima kasih, dia justru meneken surat pemecatan yang mengusir Siddiq BM dari kursi anggota DPRD sekaligus memecatnya dari keanggotaan partai NasDem. Tindakan ini dinilai jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik karena yang diputus bukan hanya jabatan, melainkan harga diri dan tali persahabatan yang telah terjalin lama.

Keputusan kontroversial ini sontak membuat masyarakat terhenyak dan bertanya-tanya. Publik mempertanyakan apakah kekuasaan memang mampu membuat seseorang lupa pada mereka yang pernah menopangnya di masa-masa sulit. Surat tersebut juga menyindir bahwa sang pemimpin kini merasa cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa membutuhkan orang-orang yang dulu berpeluh kesah bersamanya. Tindakan mencampakkan kawan lama dianggap sebagai jawaban yang mengecewakan atas ujian watak yang diberikan oleh kekuasaan.

Sebagai penguat kritik, surat tersebut mengutip sebuah pesan bijak yang pernah disampaikan oleh Abraham Lincoln. Dikatakan bahwa hampir semua orang mampu bertahan dalam kesulitan, namun watak asli seseorang akan terlihat jelas ketika dia diberikan kekuasaan. Saat ini, watak Pak Ibas sedang diuji, dan publik menilai dia gagal dalam ujian tersebut dengan memilih menyingkirkan kawan setianya sendiri. Surat itu juga mengingatkan bahwa luka hati tidak akan sembuh semudah lupa, dan rakyat akan selalu ingat siapa yang menodai harga diri serta siapa yang lupa akan jasa orang lain.

Di akhir surat, tersemat sebuah pesan mendalam bahwa politik sejatinya bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling pandai bersyukur dan berterima kasih. Singgasana yang dibangun di atas kesombongan dan kepongahan pada akhirnya akan retak dan runtuh. Sang pengirim surat, yang mengatasnamakan masyarakat Luwu Timur bersama Siddiq BM, berharap Pak Ibas mau merenung sebelum kapal yang pernah berlayar bersama akhirnya tenggelam karena sang nahkoda merasa tidak lagi membutuhkan awak kapalnya. Surat ini ditutup dengan ungkapan rasa hormat yang kini bercampur dengan kekecewaan yang mendalam, serta tagar yang menggema di media sosial, seperti #TEGUHMENGEMBANAMANAH, #RAKYATBERSATU, dan #TAKTERKALAHKAN.