Kolomdata.id – Purwakarta – Pemerintah terus menggenjot program Gentengisasi sebagai upaya mendorong penggunaan genteng pada rumah masyarakat. Menteri Dalam Negeri memimpin langsung pelepasan 125 truk pengangkut genteng dari Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. Ratusan truk tersebut membawa genteng yang sudah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) menuju sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Barat. Genteng yang diangkut merupakan produksi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat dan bakal dipakai untuk menunjang program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Jabar.

Pelepasan itu menjadi penanda dimulainya gerakan yang diklaim sebagai perintah langsung Presiden Prabowo Subianto. Sebanyak 125 truk bergerak serentak dengan tujuan utama menyuplai kebutuhan genteng di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mendagri menjelaskan bahwa ia datang ke Purwakarta bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait untuk menjalankan instruksi kepala negara tersebut. Program ini bukan sekadar soal atap rumah, melainkan juga upaya menggerakkan industri genteng dalam negeri agar berputar lebih cepat.

Dari sisi kenyamanan, genteng disebut memiliki keunggulan dibanding material lain. Mendagri memaparkan bahwa genteng mampu menahan panas sehingga udara di dalam rumah terasa lebih sejuk. Selain itu, genteng tidak menimbulkan bunyi bising saat hujan turun, berbeda dengan seng. Menurutnya, keunggulan inilah yang membuat Presiden Prabowo ingin agar rumah-rumah penduduk memakai genteng. Hal tersebut sekaligus selaras dengan gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang kerap disosialisasikan Presiden.

Data yang dihimpun Mendagri menunjukkan baru sekitar 57 persen rumah di Indonesia yang memakai genteng. Sisanya masih menggunakan material seperti seng dan asbes. Angka itu menjadi dasar mengapa program Gentengisasi perlu dipercepat. Jawa Barat sendiri menempati posisi sebagai salah satu sentra terbesar dengan sekitar 87 persen rumahnya sudah beratap genteng. Artinya masih ada sekitar 13 persen rumah di provinsi itu yang belum menggunakan genteng. Mendagri menginstruksikan agar daerah-daerah yang belum terjangkau terus dibanjiri pasokan genteng, termasuk wilayah di Sumatera dan sekitarnya. Ia mencontohkan pengiriman dari Purwakarta yang bisa menyeberang ke daerah lain.

Menteri PKP Maruarar Sirait turut mendorong para pengembang agar memakai genteng tanah liat pada rumah subsidi, rumah bantuan, hingga program bedah rumah. Dorongan itu dinilai menjadi kunci untuk memastikan permintaan terhadap genteng tetap terjaga. Mendagri menyampaikan terima kasih kepada Ara Sirait yang telah mendesak para developer untuk membeli genteng. Ia juga mengapresiasi Presiden Prabowo yang memiliki gagasan dan memerintahkan seluruh jajaran untuk menjalankan program tersebut.

Peningkatan permintaan genteng diprediksi memberi efek berganda bagi perekonomian masyarakat. Mulai dari produsen, penjual, hingga sektor transportasi yang mengangkut barang tersebut. Mendagri berharap sentra-sentra produksi genteng di berbagai daerah ikut bergerak, seperti Purwakarta, Majalengka, Kebumen, dan Yogyakarta. Penggunaan genteng tanah liat juga dinilai sebagai bagian dari karakter arsitektur Indonesia yang telah berkembang sejak lama, sehingga pelestariannya memiliki nilai budaya tersendiri.

Kegiatan pelepasan truk di Purwakarta dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah. Selain Menteri PKP Maruarar Sirait, hadir Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh beserta Wakil Kepala BPKP Aryanto Wibowo. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Herman Suryatman, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, dan Bupati Majalengka Eman Suherman juga turut hadir. Sejumlah pejabat terkait lainnya melengkapi daftar hadir dalam acara tersebut.

Program Gentengisasi menjadi bagian dari rangkaian kebijakan pemerintahan Prabowo di sektor perumahan dan industri kecil. Dengan menyasar sentra produksi UMKM, program ini diharapkan tidak hanya menyediakan atap layak bagi masyarakat, tetapi juga menopang penghidupan perajin genteng di berbagai daerah. Keberlanjutan pasokan dan permintaan menjadi faktor penting agar gerakan ini tidak berhenti di seremoni pelepasan truk semata.

Sumber: CNBC Indonesia