“`html
Malapetaka kembali menimpa pasien di RSUD I Lagaligo menyusul insiden penolakan terhadap penderita epilepsi. Seorang ibu hamil asal Dusun Benteng, Desa Tampinna, Kecamatan Angkona, Luwu Timur, harus kehilangan janin yang sebelumnya dinyatakan sehat. Buah hati berusia tiga bulan dalam rahim Herlina dikabarkan membusuk sebelum sempat lahir ke dunia.
Peristiwa nahas ini mencuat setelah pihak keluarga meluapkan kemarahan di rumah sakit pada Senin malam (01/09/25). Mereka menuntut jawaban atas meninggalnya jabang bayi yang dikandung Herlina. Padahal, menurut penuturan keluarga, sejak awal pemeriksaan dokter menyebut kondisi janin normal dan baik-baik saja.
Kronologi bermula ketika Herlina mengalami pendarahan. Ia lantas dirujuk ke RSUD I Lagaligo dan menjalani perawatan intensif selama sepuluh hari. Meski pendarahan belum berhenti, ia justru disuruh pulang oleh pihak medis. Keluarganya menuruti, namun kondisi perempuan berusia 30 tahun itu kian memburuk di rumah.
Tak berselang lama, Herlina kembali dilarikan ke rumah sakit yang sama. Kali ini ia dirawat inap selama tujuh hari. Lagi-lagi, pihak rumah sakit memintanya pulang meski gejala pendarahan masih berlanjut. Keluarga sempat memohon agar Herlina tidak dipulangkan, tetapi permintaan itu diabaikan. Ia hanya diberi obat penguat kandungan, sementara pendarahan terus terjadi tanpa henti.
Hilda, salah satu kerabat pasien, membenarkan kabar yang beredar. Ia mengaku tidak mendampingi langsung karena harus mengurus anak-anaknya di rumah. Informasi yang ia peroleh hanya melalui percakapan pribadi dengan Selvi, anggota keluarga lain yang setia menemani Herlina. Hilda menegaskan bahwa setelah dipulangkan untuk kedua kalinya, pendarahan di rumah kambuh lagi dengan aroma yang sangat menyengat dan tidak sedap.
Alih-alih kembali ke RSUD I Lagaligo, Herlina dan keluarganya memilih berobat ke seorang dokter praktik di Kecamatan Tomoni. Di sanalah fakta pilu terungkap: janinnya sudah meninggal dan membusuk di dalam kandungan. Kabar tersebut membuat Herlina dan seluruh keluarga menangis histeris tak kuasa menahan duka.
Menanggapi hal ini, Direktur RSUD I Lagaligo, dr Irfan, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menangani kasus tersebut. Pasien saat ini sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit. Ia menyebut rapat internal sedang digelar untuk mengonfirmasi seluruh kejadian, termasuk melibatkan pihak keluarga. Keterangan resmi akan disampaikan menyusul setelah pertemuan selesai.
Sementara itu, Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, mengaku telah menghubungi direktur rumah sakit. Ia mendapatkan penjelasan bahwa rumah sakit berupaya mempertahankan pasien untuk dirawat, tetapi ibu pasien bersikeras ingin pulang. Setelah tiga hari di rumah, pasien pergi ke dokter praktik dan diketahui janinnya sudah tidak selamat. Meski begitu, bupati menegaskan pemeriksaan tetap akan dilakukan secara menyeluruh untuk mencari kebenaran.
Irwan menegaskan dirinya tidak akan segan mengambil tindakan tegas jika terbukti ada kesalahan dari pihak rumah sakit. Ia berkomitmen bahwa langkah ini diambil demi kepentingan dan perlindungan seluruh masyarakat Luwu Timur. Saat ini, fokus utama adalah memastikan pasien mendapatkan perawatan yang serius dan memadai dari RSUD I Lagaligo.
“`

Tinggalkan Balasan