“`html

Parepare – Berawal dari keprihatinan atas tantangan pemenuhan nutrisi keluarga, sebanyak 115 mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) memilih untuk bertindak nyata. Mereka tidak hanya menggugah kesadaran, tetapi juga membangun solusi konkret berupa sebuah kebun komunitas di tengah permukiman warga. Inisiatif ini diwujudkan di Jalan Samsul Alam Bulu, Kelurahan Bumi Harapan, Kota Parepare, dan secara resmi digarap pada Kamis, 22 Januari 2026. Kehadiran kebun tersebut diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan pangan sehat sekaligus upaya strategis menekan angka stunting dari akar rumput, dengan melibatkan partisipasi aktif ibu-ibu dan pemuda setempat.

Program yang digagas sebagai bagian dari pengabdian masyarakat ini mengusung konsep pemanfaatan lahan tidur menjadi area produktif. Adonia Christofle Siahaan, yang memegang kendali sebagai penanggung jawab program kerja, menegaskan bahwa langkah kecil ini dirancang untuk memberikan dampak luas apabila dirawat secara konsisten. Menurutnya, kebun gizi bukan sekadar proyek penanaman sayur, melainkan sebuah gerakan untuk mengubah kebiasaan warga dalam memandang pekarangan rumah sebagai lumbung pangan keluarga. Ia juga menekankan bahwa hasil panen yang dikelola secara kolektif akan lebih bermanfaat, terutama bagi pertumbuhan anak-anak yang membutuhkan asupan bernutrisi sebagai benteng pertahanan dari risiko gagal tumbuh.

Dalam praktiknya, proses pembangunan kebun dilakukan secara gotong royong. Tahap awal dimulai dengan membersihkan lokasi dari semak belukar, kemudian dilanjutkan dengan mengolah tanah dan merapikan bedengan agar siap tanam. Setelah area siap, bibit-bibit pilihan ditanam bersama-sama oleh mahasiswa, warga, serta anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Barangan. Tanaman yang dipilih bukan tanpa alasan; kangkung, sawi, kacang panjang, terong, kelor, dan bayam merupakan komoditas yang adaptif terhadap cuaca lokal, memiliki siklus panen yang relatif singkat, serta kaya akan vitamin dan mineral yang esensial untuk ibu hamil dan anak-anak. Pemilihan jenis tanaman ini memastikan bahwa setiap keluarga dapat langsung memanen dan mengonsumsi sayuran segar tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Sambutan hangat datang dari pimpinan KWT Barangan, Hadijah. Ia mengaku sangat mengapresiasi langkah kolaboratif yang digagas oleh mahasiswa KKN 115 tersebut. Hadijah menilai program ini bukan hanya memberikan akses mudah terhadap pangan bergizi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi kaum ibu tentang cara bercocok tanam yang efisien. Ia menyampaikan harapan besar agar kebun ini tidak berhenti pada musim tanam pertama, melainkan terus dipelihara dan hasilnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, dukungan penuh dari warga menjadi kunci utama agar inisiatif ini berkelanjutan dan memberikan warisan positif bagi lingkungan sekitar.

Partisipasi masyarakat pun terlihat nyata di lapangan. Seorang warga yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan rasa syukurnya karena kini mereka memiliki sumber sayuran yang mudah diakses. Ia menyebutkan bahwa kebun ini menyelamatkan mereka dari keharusan membeli sayur di pasar yang jaraknya cukup jauh. Lebih dari sekadar penghematan biaya, warga tersebut berkomitmen untuk mengelola kebun ini secara bersama-sama. Ia percaya bahwa dengan kerja sama yang solid, hasil panen akan mampu mencukupi kebutuhan dapur harian dan yang terpenting, memastikan gizi anak-anak di lingkungan mereka terpenuhi secara optimal.

Ketahanan pangan rumah tangga memang menjadi isu krusial yang kerap terlupakan. Melalui kebun gizi ini, para mahasiswa berusaha membangun fondasi kemandirian pangan yang dimulai dari halaman sendiri. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga membentuk pola pikir baru tentang pentingnya konsumsi sayuran segar dan pengelolaan lingkungan yang sehat. Sinergi antara akademisi, organisasi wanita tani, dan elemen masyarakat sipil ini diharapkan menjadi model percontohan yang bisa direplikasi di daerah lain. Dengan perawatan yang berkelanjutan dan pembagian hasil yang adil, kebun ini berpotensi menjadi motor penggerak perubahan positif bagi kesehatan komunitas Bumi Harapan dalam jangka panjang.

“`